<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033</id><updated>2011-07-30T19:52:18.390+03:00</updated><category term='Medis'/><category term='Herbal Plus'/><category term='Info'/><category term='Test...'/><category term='Al Hijamah'/><category term='Kesehatan Islami'/><category term='Tafsir'/><category term='Pengumuman'/><category term='Fatwa Ulama'/><category term='Nasehat'/><title type='text'>Islamic Therapy and Herbal Plus</title><subtitle type='html'>Mengenalkan dan menghidupkan kembali Sunnah Nabi shalallohu 'alaihi wa sallam dibidang kesehatan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-7027845034331956071</id><published>2010-01-11T20:19:00.000+03:00</published><updated>2010-01-11T20:20:58.184+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Hijamah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Halalkah Upah Bekam?</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;assalamua’alaikum…&lt;br /&gt;ustad apa yg harus ana lakukan,akhir – akhir ini istri ana merasa bosan dirumah..&lt;br /&gt;istri selalu minta kepada ana mencari kegiatan diluar,karena sebelumnya istri ana punya sdkt kegiatan yaitu bekam panggilan…tp sjk menikah ana srh dirumah,sekarang istri pngn bekam lagi..kami memang blm dikarunia anak..ana minta solusinya..&amp; bgmana hukumnya bekam dijadikan mata pencaharian..sukron&lt;br /&gt;“ibnu cali” agha***@yahoo.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Waalaikumussalam warahmatullah. Dalam permasalahan ini ada tiga hukum yang butuh diperhatikan:&lt;br /&gt;1.    Hukum wanita keluar rumah.&lt;br /&gt;2.    Hukum wanita bekerja di luar rumah.&lt;br /&gt;3.    Hukum menarik upah dari bekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang pertama kami katakan:&lt;br /&gt;Pada dasarnya seorang wanita diperbolehkan keluar dari rumahnya dengan beberapa ketentuan:&lt;br /&gt;1.    Menutup aurat.&lt;br /&gt;2.    Tidak memakai sesuatu yang bisa menarik perhatian (fitnah), baik berupa perhiasan maupun motif dan warna pada pakaiannya.&lt;br /&gt;3.    Tidak sering keluar, yakni dia keluar ketika ada kebutuhan saja. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah terdahulu,” sebagian mufassirin menafsirkan maknanya: Janganlah kalian terlalu sering keluar dari rumah-rumah kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hal yang kedua kami katakan:&lt;br /&gt;Seorang wanita boleh-boleh saja bekerja di luar rumah selama dia membutuhkan pekerjaan tersebut dan selama tidak terjadi kemungkaran dalam pekerjaannya, semisal harus menampakkan aurat kepada yang bukan mahram atau ikhtilath (berbaurnya lelaki dan wanita) atau yang semacamnya. Adapun jika suaminya sudah memberikan nafkah yang cukup untuk dirinya dan anak-anaknya maka tidak ada alasan bagi dia untuk bekerja di luar rumah dengan mempertaruhkan kehormatannya. Karena sebagaimana yang disebutkan di atas, dia tidak boleh sering keluar rumah dan hanya boleh keluar ketika ada kebutuhan, sementara jika dia bekerja keluar rumah mengharuskan dia akan sering keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun masalah yang ketiga yaitu hukum menerima upah bekam, maka perlu diketahui dalam membekam juga membutuhkan modal, semisal pisau bedah, minyak habbatussauda, dan semacamnya yang memang dibutuhkan. Sehingga mengambil upah yang setara dengan modal yang dia keluarkan tentunya tidak masalah. Yang dibahas di sini adalah mengambil keuntungan dari membekam, yakni menarik upah yang melebihi modal yang dia keluarkan.&lt;br /&gt;Ada dua hadits dalam permasalahan ini yang lahiriahnya bertentangan, yaitu:&lt;br /&gt;1.    Hadits Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:&lt;br /&gt;نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْحَجَّامِ وَكَسْبِ الْمُومِسَةِ وَعَنْ كَسْبِ عَسْبِ الْفَحْلِ&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari hasil penjualan anjing, upah bekam, upah zina dan penjualan sperma binatang jantan.” (HR. Ahmad no. 7635)&lt;br /&gt;Dan ada beberapa hadits lain yang semakna yang menunjukkan larangan mengambil upah bekam.&lt;br /&gt;2.    Hadits Anas -radhiallahu anhu-.&lt;br /&gt;عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ: سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ فَقَالَ احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ&lt;br /&gt;“Dari Humaid dia berkata, “Anas bin Malik ditanya mengenai (upah) tukang bekam, dia lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam dan yang membekam beliau adalah Abu Thaibah, lantas beliau memerintahkan (keluarganya) supaya memberikan kepada Abu Thaibah dua gantang makanan.” (HR. Muslim no. 2952)&lt;br /&gt;Hadits ini jelas menunjukkan bolehnya memberikan upah kepada tukang bekam dan bolehnya si tukang bekam untuk menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memadukan keduanya:&lt;br /&gt;Upah berbekam adalah halal dan boleh bagi tukang bekam untuk menerima upah dari pekerjaan bekamnya. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas tatkala beliau berkata:&lt;br /&gt;احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِهِ&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan beliau memberi upah kepada orang yang membekam beliau. Seandainya upah bekam itu haram, tentu beliau tidak akan memberikan padanya.” (Riwayat Al-Bukhari no. 1961 -dan ini adalah lafazhnya- dan Muslim no. 2955)&lt;br /&gt;Ini juga merupakan pendapat Imam An-Nawawi tatkala beliau memberikan judul bab terhadap hadits Anas riwayat Muslim di atas: Bab Halalnya Upah Bekam. Dan ini juga yang difatwakan oleh Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -rahimahullah- dalam beberapa fatwa beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun larangan Nabi -alaihishshalatu wassalam- untuk mengambil upah bekam, maka larangan itu bersifat makruh yakni sebaiknya dia tidak mengambil keuntungan dari bekamnya. Tapi kalau dia mengambil keuntungan maka tidak masalah dan hukumnya halal, hanya saja dia jangan mengambil keuntungan yang berlebihan, apalagi sampai menjual obat-obatan herbal yang sebenarnya tidak mengapa kalau tidak dibeli. Karena sebagian orang yang membekam juga menganjurkan -kalau tidak dikatakan terkesan memaksa- untuk membeli obat-obatan herbalnya setelah berbekam yang katanya dibutuhkan setelah berbekam, padahal sebenarnya tidak ada masalah walaupun tidak memakai obat herbal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya:&lt;br /&gt;Sudah sepantasnya bagi tukang bekam untuk tidak menetapkan tarif dan juga tidak meminta upah, akan tetapi jika dia diberikan oleh orang yang dibekam maka tidak masalah bagia dia mengambilnya berdasarkan dalil-dalil umum yang mengizinkan mengambil pemberian dari orang lain. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada pertanyaan di atas kami katakan:&lt;br /&gt;Mungkin solusinya agar istrinya tidak ‘bete’ di rumah adalah dia mengizinkan istrinya untuk membekam tapi sebaiknya dia melakukan prakteknya di rumah sehingga dia tidak perlu keluar. Kalaupun dia keluar maka hendaknya tidak keseringan dengan syarat-syarat yang kita sebutkan di atas. Tapi sebelum semuanya itu tentunya ada cara yang paling ampuh untuk menghilangkan ‘bete’ dan kepenatan, yaitu membaca Al-Qur`a, mendengarkan pengajian, membaca buku-buku agama, dan merawat anak-anak, insya Allah ini jauh lebih baik daripada menyibukkan diri dengan membekam, wallahu a’lam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=1603&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-7027845034331956071?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/7027845034331956071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=7027845034331956071' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/7027845034331956071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/7027845034331956071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2010/01/halalkah-upah-bekam.html' title='Halalkah Upah Bekam?'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-8456973292085845112</id><published>2010-01-09T20:27:00.001+03:00</published><updated>2010-01-09T21:20:08.937+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Medis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan Islami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Hijamah'/><title type='text'>Bekam Mengobati Berbagai Penyakit</title><content type='html'>Pengobatan Alternatif Bernuansa Religi&lt;br /&gt;Atau alternative judul lain:&lt;br /&gt;Pengobatan Alternatif dari Timur Tengah&lt;br /&gt;Penulis: Budi Sutomo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang masih asing dengan istilah bekam. Padahal pengobatan alternative ini sudah diterapkan dan terbukti bermanfaat semenjak zaman para Nabi. Seperti apa sebenarnya terapi bekam, bagaimana metodenya dan benarkah bisa menyembuhkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang belum pernah mencoba, terapi bekam memang terlihat irasional, mengada-ngada bahkan terkesan kuno, dibandingkan dengan pengobatan medis modern. Perlatan yang digunakan hanya berupa kop atau tabung, pipa penghisap, pisau bedah atau silet. Setelah titik simpul syaraf penyebab penyakit di tentukan, proses bekampun berlangsung. Tak perlu waktu lama dan Anda dijanjikan kesebuhan sesuai dengan keluhan. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah Ada Semenjak Zaman Para Nabi&lt;br /&gt;Pengobatan dengan bekam sudah digunakan semenjak zaman Nabi. Terbukti dengan adanya hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “Kesembuhan itu terdapat pada tiga hal, yaitu minuman madu, sayatan alat bekam dan kay(pembakaran) dengaan api, dan sesungguhnya aku melarang umatku dari kay.” Sabda yang lain “Sungguh, pengobatan paling utama yang kalian gunakan adalah bekam,”(Hadits Shohih). Pengobatan ini memang berasal dari Timur Tengah. Bekam sendiri merupakan terjemahan dari hijamah, dari kata kata al-hajmu yang berarti membekam. Berarti alhijamah atau bekam diartikan sebagai peristiwa penghisapan darah dengan alat menyerupai tabung, mengeluarkan darah dari permukaan kulit dengan penyayatan. Demikian tutur Abu Fabby, ahli bekam yang berpraktek di kawasan Tanggerang dan Bandung kepada penulis&lt;br /&gt;Dalam perkembanganya, bekam tidak hanya terkenal di Timur Tengah namun menyebar ke daratan Eropa dan Asia seperti Cina dan Indonesia. Masyarakat Cina mengenal bekam sebagai terapi kop, sedangkan warga Eropa menyebutnya terapi cupping. Banyak penelitian bekam dilakukan oleh ilmuwan negara barat. Seperti penelitian Kohler D (1990) yang dituangkan dalam buku berjudul, The Connective Tissue as The Physical Medium for Conduction of Healing Energy in Cupping Therapeutic Method (Jaringan Ikat sebagai Media Fisik untuk Menghantarkan Energi Pengobatan dengan Bekam). Sedangkan Thomas W. Anderson (1985) juga mempublikasikan penelitian bekam dalam bentuk buku berjudul 100 Diseases Treated by Cupping Method atau 100 Penyakit yang Dapat Diobati dengan Bekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus Serba Steril&lt;br /&gt;Di Indonesia terapi bekam memang belum banyak diteliti kebenaran manfaatnya. Namun berdasarkan pengalaman praktek Abu Fabby, sudah banyak pasien bisa disembuhkan. seperti sakit kepala, pusing-pusing, sakit pinggang, sakit punggung dan sakit berat lainnya. Menurut Abu, pasien bisa sebuh karena dilakukan bekam pada titik-titik saraf terkait dengan penyakit yang dikeluhkan pasien. Caranya, titik yang akan dibekam diolesi dengan alcohol 75% agar steril, proses berikutnya dibekam hingga kulit terlihat tertarik dan berwarna kemerahan. Selanjutnya permukaan kulit (epidermis) disayat dengan pisau bedah atau silet steril sehingga akan keluar darah kotor. Setelah darah keluar disedot lagi dengan bekam hingga keluar getah bening. Getah bening ini yang berfungsi menutup lapisan yang tersayat. “Asal dilakukan dengan benar dan steril bekam tidak berbahaya karena yang tersayat hanya lapisan kulit luar, tidak sampai ke dalam lapisan daging. Biasanya 3 hari luka sudah sembuh dan mengering,” papar Abu Fabby. Melakukan bekam harus serba steril, steril hatinya dalam arti iklas dalam melakukanya, jika memungkinkan sebaiknya dilakukan sambil berpuasa baik pasien maupun yang mengobati, meminta kesembuha dari-Nya. Alat yang digunakan juga harus steril, seperti gelas bekam, penyedot udara, pisau/silet dan kantung tangan. Alat seperti silet dan kantung tangan harus sekali pakai langsung dibuang.&lt;br /&gt;Walaupun tidak berbahaya, bekam tidak dianjurkan untuk penderita diabetes, pasien yang fisiknya lemah, penderita infeksi kulit merata, kanker darah, sedang hamil dan rentan keguguran kandungan, hepatitis A dan B, penderita anemia serta pasien yang sedang menjalani cuci darah. Jika dilakukan bekam pada golongan ini, dimungkinkan akan terjadi efek samping yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip Kerja dan Manfaat Bekam&lt;br /&gt;Di luar negeri sudah banyak diteliti tentang cara kerja dan manfaat dari terapi bekam, seperti yang dilakukan oleh Dr.Amir Muhammad Sholih (Dosen Tamu di Universitas Chichago, peraih penghargaan di Amerika bidang pengobatan natural dan anggota Organisasi Pengobatan Alternatif di Amerika). Amir mengemukakan sisi ilmiah terapi bekam dalam majalah Arab Al-Ahrom edisi 218-2001. Menurut Amir, pengobatan dengan bekam telah dipelajari dalam kurikulum kedokteran di Amerika. Pengobatan bekam terbukti bermanfaat karena orang yang melakukan pengobatan dengan bekam dirangsang pada tritik saraf tubuh seperti halnya pengobatan akupuntur. Tetapi dalam akupuntur yang dihasilkan hanya perangsangan, sedangkan bekam selain dirangsang juga terjadi pergerakan aliran darah.&lt;br /&gt;Manfaat bekam juga dibenarkan oleh Dr.Ahmad Abdus Sami, Kepala Divisi Hepatologi Rumah Sakit Angkatan Darat Mesir. Di majalah Al-Ahrom, Ahmad berujar, “Unsur besi yang terdapat dalam darah manusia kadaranya berbeda-beda. Bisa berupa unsur panas yang dapat menyebabkan terhambatnya aktifitas sel-sel sehingga mengurangi imunitas terhadap virus. Karenanya pasien yang dalam darah kandungan besinya tinggi, raksi pengobatan lebih lambat dibandingkan pasien kandungan besinya rendah dalam darah. Risetnya juga membuktikan, pembuangan sebagian darah seperti dalam terapi bekam terbukti mampu memulihkan reaksi pengobatan menjadi lebih cepat sehingga bekam bisa diterapkan sebakai terapi pendamping pengobatan medis. Hasil percobaan yang pernah dilakukan Dr.Amir pada pasien terinveksi virus hepatitis C dan memiliki kadar besi cukup tinggi dalam darahnya. Setelah pasien diterapi bekam dan diberi obat Interferon dan Riboviron memiliki reaksi positif dan kekebalan meningkat. Padahal sebelum dibekam reaksi terhadap obat tersebut hampir tidak bereaksi.&lt;br /&gt;Dalam pengantar buku berjudul Bekam Sunnah Nabi dan Mukjizat Medis, Dr.Wadda,Amani Umar, memberikan penjelasan berbeda tentang cara kerja bekam. Menurutnya, di bawah kulit dan otot terdapat banyak titik saraf. Titik-titik ini saling berhubungan antara organ tubuh satu dengan lainnya sehigga bekam dilakukan tidak selalu pada bagian tubuh yang sakit namun pada titik simpul saraf terkait. Pembekaman biasanya dilakukan pada permukaan kulit (kutis), jaringan bawah kulit (sub kutis) jaringan ini akan “rusak”. Kerusakan disertai keluarnya darah akibat bekam akan ikut serta keluar beberapa zat berbahaya seperti serotonin, bistamin, bradiknin dan zat-zat berbahaya lainnya. Bekam juga menjadikan mikrosirkulasi pembuluh darah sehingga timbul efek relaksai pada otot sehingga dapat menurunkan tekanan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : draldjoefrieproducts.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-8456973292085845112?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/8456973292085845112/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=8456973292085845112' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/8456973292085845112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/8456973292085845112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2010/01/pengobatan-alternatif-bernuansa-religi.html' title='Bekam Mengobati Berbagai Penyakit'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-2800971761880040298</id><published>2010-01-05T23:19:00.001+03:00</published><updated>2010-01-05T23:22:42.476+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Hijamah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Upah Bekam/Hijamah itu Jelek (Khobits)</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 213/14 pernah ditanya: &lt;br /&gt;Terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa ‘upah bekam itu khobits (jelek)’. Namun sebaliknya dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi upah pada tukang bekam. Bagaimana mengkompromikan dua hadits semacam ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyebut bawang merah, bawang bakung dan semacamnya dengan sebutan khobits (jelek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benda-benda tersebut halal atau haram?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, bawang dan semacamnya tadi adalah halal. Upah bekam semisal dengan ini. Khobits yang dimaksudkan adalah jelek (buruk). Jadi yang dimaksudkan adalah tidak sepantasnya tukang bekam itu mengambil upah. Kalau ingin mengambil upah, seharusnya dia mengambil sekadarnya saja tanpa ambil keuntungan. Jadi, upah bekam ini bukanlah haram. Oleh karena itu, Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berargumen dengan pemberian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu upah pada tukang bekam, sehingga ini menunjukkan bahwa upah bekam tersebut adalah halal. Ibnu ‘Abbas mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;احتجم النبي صلى الله عليه وسلم وأعطى الحجام أجره ولو كان حراماً ما أعطاه&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam dan beliau memberi orang yang membekam upah. Seandainya upah bekam itu haram, tentu beliau tidak akan memberikan padanya.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi khobits memiliki makna arti. Kita dapat melihat pada firman Allah ‘azza wa jalla,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ&lt;br /&gt;“Nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang khobits (yang buruk-buruk) lalu kamu menafkahkan daripadanya.” (QS. Al Baqarah: 267)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan khobits dalam ayat di atas? Khobits yang dimaksudkan adalah sesuatu yang jelek (buruk). Jadi tidak setiap kata khobits bermakna haram. Kadang khobits bermakna jelek (buruk). Atau kadang pula khobits adalah sesuatu yang tidak disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang, Gunung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1430 H&lt;br /&gt;_____________&lt;br /&gt;[1] HR. Bukhari dan Muslim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-2800971761880040298?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/2800971761880040298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=2800971761880040298' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/2800971761880040298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/2800971761880040298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2010/01/upah-bekamhijamah-itu-jelek-khobits.html' title='Upah Bekam/Hijamah itu Jelek (Khobits)'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-8301943866510518593</id><published>2009-11-13T13:42:00.001+03:00</published><updated>2009-11-13T14:00:57.387+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Hijamah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Menjadikan Bekam sebagai Mata Pencaharian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/Sv08RwR4F9I/AAAAAAAAAWU/-yUtFnt1Dls/s1600-h/Islamic+Therapy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/Sv08RwR4F9I/AAAAAAAAAWU/-yUtFnt1Dls/s320/Islamic+Therapy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403541403629787090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmy rahimahullahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;هل يجوز الإكتساب من الحجامة؟&lt;br /&gt;Bolehkah bekam dijadikan mata pencaharian?&lt;br /&gt;Abu Hajar – Tangerang (+62852168xxxxx)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجواب:&lt;br /&gt;عند الضرورة يجوز إذا قصد نفع الناس وليس له معيشة يتكسب منها غير هذه المهنة فهو يجوز إن شاء الله. وبالله التوفيق&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Dalam keadaan darurat diperbolehkan, apabila dengan niat memberikan manfaat kepada orang lain sementara dia tidak memiliki penghasilan kecuali dari pekerjaan ini, maka boleh insya Allah. Wabillahi At-Taufiq.&lt;br /&gt;(Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil untuk blog, www.ulamasunnah.wordpress.com dari Majalah An-Nashihah, vol. 12 tahun 1428H/2007M, hal. 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/03/08/menjadikan-bekam-sebagai-mata-pencaharian/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-8301943866510518593?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/8301943866510518593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=8301943866510518593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/8301943866510518593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/8301943866510518593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2009/11/menjadikan-bekam-sebagai-mata.html' title='Menjadikan Bekam sebagai Mata Pencaharian'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/Sv08RwR4F9I/AAAAAAAAAWU/-yUtFnt1Dls/s72-c/Islamic+Therapy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-1413517396329025501</id><published>2009-07-05T13:50:00.000+03:00</published><updated>2009-07-09T08:46:44.917+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herbal Plus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info'/><title type='text'>Tes Keaslian Madu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.guidaconsumatore.com/english/guides/food_beverage/honey.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 336px; height: 300px;" src="http://www.guidaconsumatore.com/english/guides/food_beverage/honey.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini banyak sekali beredar madu palsu. Namun, dengan mengerti sifat dan kandungan madu, dapat dinilai mana madu yang “asli” dan “palsu”, serta kualitas madu apakah baik atau jelek..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemalsuan JUMLAH,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dilakukan dengan menambah volume madu “asli” dengan madu “palsu”, misalkan mencampurkan gula/madu buatan yang relatif lebih murah untuk kemudian diaduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemalsuan MUTU, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biasanya dilakukan dengan mengubah kadar air madu yang tadinya tinggi, lalu diturunkan dengan pemanasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemalsuan MENYELURUH, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yakni madu yang diklaim “asli” padahal sebenarnya 100% buatan, jadi bukan madu yang nerasal dari lebah dengan komposisi aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kasat mata memang sulit membedakannya, diperlukan pengujian kuantitatif untuk memastikan keaslian madu. Lewat uji kuantitas, madu dapat diperkirakan dipalsukan atau ditambahkan sesuatu apabila; kadar sukrosa madu naik, kadar enzim naik/turun, kadar abu menjadi naik/turun, daya hantar listrik naik, kandungan pollen dalam sedimen turun, kandungan mineral turun, aroma dan rasa berubah, kandungan HMF (Hidroksi metal Furfuraldehid) berubah, kadar protein turun, warnanya terang, madu mengandung PbCl2, PbSO4, anion dan kation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan HMF yang merupakan produk pemecahan glukosa dan fruktosa pada madu asli maksimal 3 mg/100 gram. Madu asli juga memiliki keasaman (pH) yang tetap berkisar 3,4 – 4,5, sedangkan pH madu palsu 2,4 – 3,3 atau diatas 5. Aktifitas enzim diastase pada madu asli yang berkualitas minimal 5 dengan rasio Kalium (K) dan Natrium (Na) sekitar 4,0. Pada madu palsu rasionya 0,05-0,1. Madu asli memiliki sifat khas memutar optic ke kiri yang bisa diperiksa dengan alat polarimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, madu asli dan palsu dapat dibedakan dengan melihat ciri khas fisis madu asli sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cara pertama, meneteskan madu pada selembar kertas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madu palsu akan mudah terserap kertas karena kandungan airnya tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cara kedua, dengan mengocoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madu asli akan membentuk gas atau uap air jika dikocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cara ketiga, mencampurnya dengan telur ayam/bebek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madu asli yang diaduk bersama telur akan membentuk gumpalan dan rasa telur berubah menjadi seperti sudah digoreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Cara keempat, dituang ke wadah berisi air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madu asli akan langsung jatuh ke dasar wadah, sedangkan madu palsu cenderung akan menyebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, saat ini banyak madu palsu yang menyerupai madu asli hingga cara-cara tersebut hanya bisa sebagai bahan pertimbangan saja (tidak mutlak, ed). Tipsnya adalah dengan membeli madu di tempat yang sudah terpercaya. Bila terpaksa membeli di tempat lain, bandingkan apakah harganya tidak terlalu beda jauh dengan madu sejenis dari merk lain. Jika harganya sangat murah, bias jadi madu tersebut adalah madu buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Buku Terapi Madu, penulis dr. Adji Suranto,SpA. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta, 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : http://kaahil.wordpress.com&lt;br /&gt;via: &lt;a href="http://terapimadu.wordpress.com/2009/04/01/tes-keaslian-madu/"&gt;http://terapimadu.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-1413517396329025501?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/1413517396329025501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=1413517396329025501' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1413517396329025501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1413517396329025501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2009/07/tes-keaslian-madu.html' title='Tes Keaslian Madu'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-9182198547034552140</id><published>2009-07-04T23:39:00.000+03:00</published><updated>2009-07-04T23:42:25.538+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Medis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan Islami'/><title type='text'>CARA KHITAN : METODE SMART KLAMP</title><content type='html'>Bismillah.&lt;br /&gt;Untuk baca materi ini selengkapnya silahkan klik &lt;a href="http://kaahil.wordpress.com/2009/07/01/cara-khitan-metode-smart-klamp/"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-9182198547034552140?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/9182198547034552140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=9182198547034552140' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/9182198547034552140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/9182198547034552140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2009/07/cara-khitan-metode-smart-klamp.html' title='CARA KHITAN : METODE SMART KLAMP'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-597652565868969801</id><published>2009-06-29T08:52:00.003+03:00</published><updated>2009-06-29T08:58:25.071+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Medis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan Islami'/><title type='text'>dr.SOFIN HADI : Penemu Metode Cincin untuk Khitan (Sunat)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://kaahil.files.wordpress.com/2009/06/sunat-cincin1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 115px;" src="http://kaahil.files.wordpress.com/2009/06/sunat-cincin1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Sofin Hadi tidak bercita-cita untuk menjadi dokter. “Setelah lulus SMAN 9 tahun 1982, saya diterima di IPB, UGM, UNS dan IKIP Negri Yogyakarta. Tapi guru saya, Bu Sunarti menyarankan agar saya masuk Kedokteran. Padahal pilihan pertama saya di Teknik Sipil UGM. Kata beliau, jarang lulusan SMA yang diterima di Fakultas Kedokteran UGM. Saran itu saya turuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat dari Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, tahun 1991, Sofin bekerja di RS Pertamina, Bontang, Kalimantan Timur sampai 1993. Karena adanya peraturan baru, ia kemudian diwajibkan untuk menjalani dinas dokter PTT (pegawai tidak tetap) dan ditempatkan di Puskesmas Merden, Banjarnegara, Jawa Tengah sampai 1996. Setelah itu Sofin dipercaya Yayasan Muhammadiyah untuk mendirikan RS PKU Muhammadiyah di situ dan sekaligus ia ditunjuk sebagai direkturnya sampai sekarang. Dasarnya suka teknik, sampai-sampai, rumah sakit yang saya pimpin juga saya gambar, rancang dan saya mandori sendiri pembangunannya”, tutur Sofin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa Merden inilah dr. Sofin Hadi sering mengkhitan. “Seperti kebanyakan masyarakat di sini, khitanan merupakan peristiwa besar. Jadi pakai menanggap hiburan segala. Untuk pelaksanaan khitan pun dipilih yang termahal, terbaik dan tercanggih alatnya. Bahkan yang kurang mampu pun sering memaksakan diri minta obat yang terampuh agar anaknya tidak kesakitan dan cepat sembuh”, kata Sofin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdorong ingin memberikan pelayanan terbaik, tahun 1997 ia ikut-ikutan teman sesama dokter membeli cauter. Yaitu alat untuk menghentikan pendarahan, dari yang harga murah hingga yang mahal. “Saya juga membeli electro cautery sampai alat sinar laser seharga 10 juta rupiah. Tetapi hasil akhirnya tetap saja si anak harus melepas perban dan kesakitan”, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemudian ada teman sejawatnya yang bilang bahwa di Jakarta ada alat khitan yang metodenya seperti dilaminating. Setelah ia ke Jakarta, alat itu ternyata tidak ada. Temannya yang lain ada lagi yang bilang bahwa di Semarang, ada alat khitan yang proses akhirnya seperti dikelim saja. “Saya pikir hebat sekali. Tetapi setelah saya cari, nyatanya juga nggak ada”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1999, mulai terlintas keinginan untuk membuat metode khitan sendiri tanpa keluar darah dan juga tidak memerlukan jahitan dengan mulai mereka-reka alat-alat yang akan digunakan. Ketika kemudian ada yang minta dikhitan, ia pun mencobakan hasil rekaannya tersebut, yakni dengan membuka ujung penis kemudian dipasang potongan spuit suntikan yang ia sebut penahan. Penahan itu dijepit dengan alat yang biasa digunakan di dunia medis, namun ternyata cara ini tidak nyaman, karena kemana pun si anak, penjepitnya harus ikut terus. Selain itu si anak juga jadi kesulitan untuk kencing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun 2000, Sofin mencoba lagi, kali ini penjepitnya diganti dengan benang yang ditalikan ke penahannya. Pada awalnya sukses, tapi kemudian alat kelamin si anak jadi berdarah. Ternyata benangnya lepas. Jika terjadi demikian, terpaksa kemudian ia harus melakukan khitan ulang secara konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 2000, ketika Sofin mengganti oli mobil di bengkel, ia melihat orang membeli satu set ring yang terbuat dari karet dengan bermacam-macam ukuran. Saat itulah timbul idenya untuk memasangkan ring itu di tengah penahan khitan. Sayangnya, ia kesulitan menemukan alat untuk memasukkan ring itu ke tengah penahan. Sampai ia sempat mencoba menggunakan alat penjepit bulu mata. Namun hasilnya tetap gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pada suatu malam di bulan Juli 2001, dr Sofin mengeluarkan seluruh peralatan operasi dan mengutak-atiknya. Di situlah ia mendapatkan alat yang bisa dipakai untuk memasang ring pada penahannya. “Saya sampai teriak, ketemu! Anak-anak saya yang sudah siap tidur sampai tanya, saya menemukan apa?” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ia mendapat telepon dari temannya yang mau menikahkan anaknya dan meminta dia untuk mengkhitan calon menantunya yang akan masuk Islam. Jadilah hari itu, Minggu, 8 Juli 2001, si calon menantu yang datang kepadanya 2 jam sebelum menikah, dikhitan dengan metode cincin memakai aplikator yang baru dia temukan dan digunakan untuk pertama kalinya.  Hasilnya pun memuaskan seperti diakui oleh pria tersebut. Setelah keberhasilannya ini, semakin banyak yang kemudian berkhitan dengan metode cincin temuannya. Mereka berdatangan dari Jakarta, Tegal dan Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Sofin juga mengkonsultasikan temuannya dengan para dokter spesialis di RS PKU Muhammadiyah, Merden. Merekalah yang kemudian juga mendorongnya untuk mematenkannya. Adapun temuannya ini ia namakan “Sunat Cincin Metode Sofin”. Metode ini juga terbukti lebih ekonomis, aman dan praktis daripada cara konvesional. Biaya alat-alatnya hanya berkisar Rp 1.000,- saja, prosesnya lebih cepat (dr Sofin memperagakan pengkitanan 2 anak hanya dalam waktu 2 menit), hasilnya lebih rapi, ramah lingkungan, tidak banyak membuang kassa dan darah seperti halnya sunat konvensional. Orang yang baru disunat dengan cara biasa memerlukan obat bius dosis tinggi yang dari segi kimianya tidak ramah bagi tubuh. Metode khitan tanpa luka ini juga cocok bagi penderita hemofilia yang jika terluka dan berdarah sulit berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sabtu, 13 Oktober 2001, dr Sofin Hadi (37) mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Pihak MURI sendiri sebelumnya juga telah meminta rekomendasi dari IDI dan alim ulama atas temuan dr Sofin ini. Penghargaan berupa sertifikat pemecahan rekor ke-618 tersebut diberikan karena Sofin adalah orang pertama yang menemukan metode khitanan tanpa luka. “Bagi saya, ini merupakan bentuk pengakuan dari masyarakat atas hasil kerja saya. Jadi bukan sesuatu yang harus dibanggakan”,ujar Suami Kuswarasari Utami yang telah dikaruniai empat anak ini. (Rini Sulistyati) — Sumber: Tabloid Nova, 11 November 2001 dan Harian Suara Merdeka, Selasa, 16 Oktober 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.jaist.ac.jp/~rac/pub/kanigara/id/Home/sofin.htm&lt;br /&gt;via: http:&lt;a href="http://kaahil.wordpress.com/2009/06/26/dr-sofin-hadi-penemu-metode-cincin-untuk-khitan-sunat/"&gt;//kaahil.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-597652565868969801?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/597652565868969801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=597652565868969801' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/597652565868969801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/597652565868969801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2009/06/drsofin-hadi-penemu-metode-cincin-untuk.html' title='dr.SOFIN HADI : Penemu Metode Cincin untuk Khitan (Sunat)'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-4179388215704139447</id><published>2008-06-11T13:40:00.002+03:00</published><updated>2008-06-11T13:57:59.726+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Medis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herbal Plus'/><title type='text'>Makanan Terbaik Penurun Kolesterol</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.albatof.com/images/olive_oil_splash.jpg"&gt;&lt;img src="http://www.albatof.com/images/olive_oil_splash.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;KEBIASAAN dan jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari berperan penting dalam memengaruhi kadar kolesterol darah Anda. Semakin baik pola dan kualitas makanan Anda sehari-hari, tentu makin terjaga pula keseimbangan kolesterol dan kesehatan Anda secara keseluruhan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang ingin terhindar dari masalah kolesterol ada baiknya mulai mempertimbangkan mengonsumsi makanan sehat antikolesterol. Berikut adalah lima makanan terbaik menurut Mayo Clinic yang mampu membantu menurunkan kolesterol dan melindungi jantung serta pembuluh darah Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bubur gandum/oatmeal&lt;br /&gt;Oatmeal mengandung serat yang larut (soluble fiber) yang dapat menurunkan kolesterol buruk (low-density lipoprotein /LDL) Anda. Soluble fiber juga ditemukan  pada jenis makanan lain, seperti kacang ginjal (kidney beans), apel, buah pir, barley, dan buah prunes. Serat yang larut diyakini mampu menurunkan penyerapan kolesterol dalam pencernaan Anda. Mengonsumsi  10 gram lebih serat larut setiap hari dapat menurunkan kadar  total LDL.  Setiap  1 1/2 cangkir oatmeal matang yang Anda makan mengandung 6 gram serat.  Jika Anda tambahkan  buah seperti  pisang, Anda menambah 4  gram lebih  serat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kacang walnuts, almonds dan jenis lainnya&lt;br /&gt;Berbagai studi menunjukkan bahwa walnut secara signifikan menurunkan kolesterol dalam darah.  Kacang ini mengandung banyak asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acids) yang dapat membuat pembuluh darah tetap sehat dan elastis.  Kacang Almond juga memiliki faedah yang tidak terlalu beda, di mana penurunan kolesterol dapat Anda rasakan setelah sekitar empat minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diet untuk menurunkan kolesterol di mana 20 sumber kalorinya berasal dari walnut  diklaim mampu  menurunkan kadar kolesterol LDL hingga 12 persen.  Namun kacang-kacangan umumnya berkalori tinggi sehingga dengan hanya sekitar segenggam (tidak lebih dari 2 ons atau 57 gram) akan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu diingat bahwa ketika Anda mengonsumsinya dengan makanan lain jangan berlebihan.  Makan berlebih  justru membuat Anda  kegemukan dan memicu risiko jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ikan dan asam lemak omega-3&lt;br /&gt;Banyak riset yang mendukung manfaat mengonsumsi ikan dalam menurunkan kolesterol karena makan ikan karena kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi.  Asam lemak Omega-3 juga  membantu  jantung dengan beragam cara seperti menurunkan tekanan darah  dan menekan risiko pembekuan darah.  Pada pasien yang sudah mengalami serangan jantung, minyak ikan atau asam lemak omega-3  secara signifikan menurunkan risiko kematian mendadak .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para dokter biasanya merekomendasikan untuk memakan ikan minimal dua kali dalam semingguu. Sumber makanan yang kaya  omega-3 terdapat pada  makarel, ikan herring, sarden, tuna albacore dan salmon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, untuk mempertahankan faedah ikan bagi kesehatan, sebaiknya ikan dipanggang atau dibakar dalam oven.  Jika tidak suka ikan,  Anda juga bisa mempeoleh omega-3 dari makanan lain seperti  ground flaxseed atau canola oil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga dapat memperoleh  omega-3 atau minyak ikan dari suplemen, tetapi tentu tidak akan mendapatkn semua nutrien penting dalam ikan seperti selenium. Bila Anda memutuskan memakan suplemen, ingatlah untuk tetap memperhatikan pola makan Anda dan  makanlah daging yang rendah lemak atau sayuran untuk menggantikan ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Minyak Zaitun/Olive Oil&lt;br /&gt;Minyak Zaitun atau olive oil mengandung  campuran antioksidan potensial yang dapat menekan kolesterol tanpa mengganggu kadar kolesterol  baik (HDL) Anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Pengawas Makanan AS (FDA) merekomendasikan untuk mengonsumi sekitar  2 sendok makan (23 gram) olive oil setiap hari untuk menjaga jantung tetap sehat. Untuk menambah olive oil dalam daftar menu, Anda bisa mencampunya dengan sayuran, bumbu cair, atau mencampurnya dengan cuka sebagai pelengkap salad. Anda juga dapat menggunakan olive oil as sebagai pengganti mentega ketika memoles daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa riset menyarankan bahwa  efek olive oil dalam menurunkan kolesterol akan lebih besar jika Anda memilih extra-virgin olive oil atau minyak zaitun ekstra murni. Minyak jenis ini tidak melewati proses pengolahan dan penambahan zat kimia yang diyakini mengandung lebih banyak antioksidan menyehatkan. Sebaiknya hindari "light" olive oil karena  biasanya jenis  ini sudah melewati beragam proses pengolahan sehingga faedahnya tidak akan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Makanan yang difortifikasi atau diperkaya sterol dan stanol tumbuhan.&lt;br /&gt;Banyak makanan yang kini telah difortifikasi dengan sterol atau stanol — zat dalam tumbuhan yang membantu menahan penyerapan kolesterol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Margarin, jus jeruk, atau yogurt ada yang sudah difortifikasi dengan sterol yang bisa menurunkan  LDL kolesterol hingga 10 persen. Jumlah sterol tumbuhan yang dibutuhkan untuk mencapai target itu sedikitnya 2 gram yang setara dengan dua porsi (237 mililter) jus jeruk dengan fortifikasi sterol dalam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sterol atau stanol tumbuhan yang ditambahkan dalam makanan  tidak akan memengaruhi kadar trigliserida atau pun HDL. Sterol atau stanol juga tidak akan mengganggu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak seperti A, D, E and K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/11/16551354/makanan.terbaik.penurun.kolesterol"&gt;Kompas.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-4179388215704139447?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/4179388215704139447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=4179388215704139447' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/4179388215704139447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/4179388215704139447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/06/makanan-terbaik-penurun-kolesterol.html' title='Makanan Terbaik Penurun Kolesterol'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-3904117470306214507</id><published>2008-04-01T23:22:00.002+03:00</published><updated>2008-04-01T23:38:44.977+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Bolehkah Wanita Menjenguk Laki-laki yang Sakit?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.whippsx.nhs.uk/uploaded_files/icu_bed_space.gif"&gt;&lt;img src="http://www.whippsx.nhs.uk/uploaded_files/icu_bed_space.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Apakah boleh bagi seorang wanita untuk menjenguk laki-laki apabila tidak ada fitnah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Boleh bagi wanita untuk mengunjungi laki-laki dari belakang tabir, menanyakan keadaannya dengan tanpa lemah lembut pada perkataannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya” (Al-Ahzab: 32).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Yang demikian itu tidak apa. Pernah ‘Aisyah mengunjungi Bilal ketika Bilal pergi ke Madinah dan ‘Aisyah mendengar Bilal mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai apakah aku benar-benar akan bisa bermalam semalam&lt;br /&gt;sedang di sekitarku ada yang hina dan yang mulia&lt;br /&gt;Dan apakah aku akan mendatangi air majannah pada suatu hari&lt;br /&gt;Dan apakah akan tampak bagiku Syamah dan Thufail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilal merindukan negeri tersebut, negeri Mekkah yang di sana ada kesehatan. Demikian pula Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau sakit ketika pergi ke Madinah dan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pada pagi hari bersama keluarganya&lt;br /&gt;Dan kematian itu lebih dekat daripada tali sandalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka lihatlah keadaan ketika mereka sakit. Bagaimana ucapan mereka bisa menjadi baik, tidak ada di dalamnya kecuali apa-apa yang membuat ridha Allah ‘azza wa jalla. Dan dalil pada masalah ini bahwasanya boleh bagi wanita untuk mengunjungi laki-laki dari belakang tabir apabila aman dari fitnah.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil untuk http://ulamasunnah.wordpress.com dari buku Berbahagialah Muslim yang Sakit. Penerjemah:Abu Muhammad Farhan Al-Bantuli dan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, Muraja’ah: Al-Ustadz Fuad, Penerbit Al-Ilmu, Jogjakarta)&lt;br /&gt;http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/04/01/bolehkah-wanita-menjenguk-laki-laki-yang-sakit/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-3904117470306214507?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/3904117470306214507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=3904117470306214507' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/3904117470306214507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/3904117470306214507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/04/bolehkah-wanita-menjenguk-laki-laki.html' title='Bolehkah Wanita Menjenguk Laki-laki yang Sakit?'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-1197147423357235890</id><published>2008-03-31T22:26:00.002+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:51.081+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Bolehkah Ber-KB Untuk Kepentingan Tarbiyah Anak?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R_E-FomJkeI/AAAAAAAAALE/9an0HVLgnm0/s1600-h/Pil+KB.JPG"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R_E-FomJkeI/AAAAAAAAALE/9an0HVLgnm0/s320/Pil+KB.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183992912597848546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tanya: Apakah dibolehkan menggunakan obat pencegah kehamilan untuk mengatur/menjarangkan kehamilan dengan tujuan agar dapat mendidik anak yang masih kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh menggunakan obat pencegah kehamilan kecuali dalam keadaan darurat, apabila memang pihak medis/dokter menyatakan kehamilan berisiko pada kematian ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menggunakan obat pencegah kehamilan dengan tujuan menunda sementara kehamilan yang berikutnya, tidaklah terlarang bila memang si ibu membutuhkannya. Misalnya karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk hamil dalam interval/jarak waktu yang berdekatan, atau bila si ibu hamil lagi akan memudaratkan anak/bayinya yang masih menyusu. Dengan ketentuan, obat tersebut tidak memutus/menghentikan kehamilan sama sekali, tapi hanya sekedar menundanya. Bila memang demikian tidaklah terlarang sesuai dengan kebutuhan yang ada, dan tentunya setelah mendapat saran dari dokter spesialis kandungan.” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/175)&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt; http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/03/31/bolehkah-ber-kb-untuk-kepentingan-tarbiyah-anak/&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-1197147423357235890?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/1197147423357235890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=1197147423357235890' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1197147423357235890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1197147423357235890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/03/bolehkah-ber-kb-untuk-kepentingan.html' title='Bolehkah Ber-KB Untuk Kepentingan Tarbiyah Anak?'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R_E-FomJkeI/AAAAAAAAALE/9an0HVLgnm0/s72-c/Pil+KB.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-859711019573682959</id><published>2008-02-23T10:16:00.006+03:00</published><updated>2008-03-09T07:26:56.428+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasehat'/><title type='text'>Rahasia di Balik Sakit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.itwm.fraunhofer.de/as/asprojects/af/ekg_af.jpg"&gt;&lt;img src="http://www.itwm.fraunhofer.de/as/asprojects/af/ekg_af.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (QS. al-Anbiyaa': 35). Sahabat Ibnu 'Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur'an- menafsirkan ayat ini: "Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan". (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya, "Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Sakit akan menghapuskan dosa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Sakit akan Membawa Keselamatan dari Api Neraka&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya," Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka." (HR. Al Bazzar, shohih)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal 'afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. Al-An'am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: "Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah ta'ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan." (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-859711019573682959?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/859711019573682959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=859711019573682959' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/859711019573682959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/859711019573682959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/02/rahasia-di-balik-sakit.html' title='Rahasia di Balik Sakit'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-1222961688994742854</id><published>2008-01-26T14:33:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:51.350+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herbal Plus'/><title type='text'>SIWAK (Pembersih Mulut yang Diridhai Allah)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R6HubdLBBDI/AAAAAAAAAH8/R4Ja7KsgAb0/s1600-h/Siwak2.jpeg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R6HubdLBBDI/AAAAAAAAAH8/R4Ja7KsgAb0/s400/Siwak2.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161668803398009906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5sazdLBBCI/AAAAAAAAAH0/ygoTaaNUKGs/s1600-h/Siwak.jpeg"&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abul Abbas Khadhir Al-Limbory&lt;br /&gt;http://darussalaf.org/stories.php?id=899&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUQADDIMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanya milik Allah –Subhanahu wa ta’ala-, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya dan meminta ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang akan bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) yang benar kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma ba’du&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini merupakan tulisan revisi dari tulisan kami, yang sebelumnya telah dimuat di situs Ahlussunnah Indonesia www.darussalaf.or.id dengan kami memberikan beberapa tambahan faedah. Dan kami beri judul “SIWAK Pembersih Mulut yang di Ridhai Allah” Dan ucapan terima kasih kami haturkan kepada team pengasuh website www.darussalaf.or.id yang telah membantu tersebarnya tulisan ini, juga ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga risalah ini dapat terselesaikan dengan baik, semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan yang banyak.&lt;br /&gt;Apabila dalam risalah ini terdapat kesalahan maka kami sangat mengharapkan agar kiranya kesalahan tersebut tidak dijadikan sebagai peluang untuk menjelek-jelekkan sauadaranya sesama muslim, tapi yang sangat kami harapkan agar kesalahan tersebut disampaikan terlebih dahulu kepada kami sehingga kami bisa melalukan pembenahan.&lt;br /&gt;Semoga Allah –‘Azza wa Jalla- menjadikan tulisan ini bermanfaat dan menjadikannya murni semata-mata untuk mengharapkan Wajah-Nya.&lt;br /&gt;Maha Suci Rabbmu Pemilik segala kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Keselamatan bagi para rasul. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” (Ash-Shaffat: 180-182)&lt;br /&gt;Surabaya, 15 Sya’ban 1428 H&lt;br /&gt;28 Agustus 2007 M&lt;br /&gt;Abul Abbas Khadhir Al-Limbory&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIWAK&lt;br /&gt;PEMBERSIH MULUT YANG DIRIDHAI ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. SIWAK DAN KEUTAMAANYA&lt;br /&gt;1.1 Pengertian Siwak&lt;br /&gt;Siwak jika di kasrah huruf sin-nya maka bermakna suatu kayu yang dipakai untuk menggosok gigi. (Taisirul 'Allam: 1/39 dan Ihkamul Ahkam, hal. 55)&lt;br /&gt;1). Siwak memiliki dua makna yaitu: Bermakna Fi’il yaitu perbuatan untuk menggosok gigi atau untuk membersihkan mulut. (Subulussalam Syarh Buluughul Maraam: 1/63 dan Fathul Baariy: 1/422)&lt;br /&gt;2). Bermakna alat yaitu alat atau kayu yang dipakai untuk menggosok gigi. (Taisirul 'Allam: 1/39, Subulussalam Syarh Buluughul Maraam: 1/63 dan Fathul Baary: 1/422)&lt;br /&gt;Siwak adalah suatu perkara yang disyari'atkan, yaitu dengan menggunakan batang atau semisalnya. (Al-Mulakhkhas Al-Fiqhiy: 1/29)&lt;br /&gt;1.2 Manfaat dari Bersiwak&lt;br /&gt;1). Untuk membersihkan mulut dan diridhai oleh Allah –‘Azza wa Jalla-, dari Aisyah –radhiyallahu ‘anha- bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: "Siwak itu&lt;br /&gt;pembersih mulut dan diridhai Allah.” (HR. Bukhari Kitabus Shiyam Bab 27, Ad-Darimy juz I Kitabul Wudhu bab 19 hal. 174, Ahmad dalam Al-Musnad juz I hal. 3 dari Abu Bakar dan hal. 10, dan An-Nasai juz I Kitabut Thaharahi Bab.4. Dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany di dalam Shahihil Jami' no. hadits 3695).&lt;br /&gt;2). Untuk menghilangkan warna kekuning-kuningan yang menempel pada gigi dan untuk menghilngkan bau mulut. (Taisirul 'Allam, hal. 39, Subulussalam Syarh Buluughul Maraam: 1/63, Fathul Baary: 1/422 dan At-Ta’liqat Ar-Radhiyah: I/68).&lt;br /&gt;3). Samahatusy Syaikh Ibnu Baz –rahimahullah- berkata:&lt;br /&gt;“Siwak memiliki banyak manfaat, diantaranya:&lt;br /&gt;√ Membersihkan mulut&lt;br /&gt;√ Mengatasi bau tidak sedap pada mulut&lt;br /&gt;√ Mengiatkan hamba untuk beramal&lt;br /&gt;√ Menghilangkan ngantuk. Dan masih banyak lagi manfaatnya.” (Syahr Riyadhus Shalihin: 3/265)&lt;br /&gt;4). Al-Imam Ibnu Qayyim –rahimahullah- berkata:&lt;br /&gt;“Siwak memiliki banyak manfaat diantaranya:&lt;br /&gt;√ Mengharaumkan mulut dan menguatkan gigi dan gusi&lt;br /&gt;√ Memutus adanya liur&lt;br /&gt;√ Mencerahkan penglihatan&lt;br /&gt;√ Menghilangkan penyakit perut&lt;br /&gt;√ Menyehatkan perut dan lambung&lt;br /&gt;√ Memperindah suara&lt;br /&gt;√ Mempermudah ketika mencerna makanan (menambah selera makan)&lt;br /&gt;√ Mudah ketika berbicara&lt;br /&gt;√ Giat untuk membaca, berdzikir dan shalat&lt;br /&gt;√ Menghilangkan rasa ngantuk&lt;br /&gt;√ Diridhai Allah&lt;br /&gt;√ Disegani malaikat&lt;br /&gt;√ Memperbanyak kebaikan. (Tamamul Minnah: 1/61).&lt;br /&gt;1.3 Hukum Bersiwak&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-, dari Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam-, Beliau bersabda: "Kalaulah tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu.” (HR. Malik:1/66, Al Baihaqi:1/35, Ibnu Huzaimah:1/73 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany di dalam Shahihil Jami' no. 5317, shahihut Targhib no. 201 dan Al-Irwa': 1/109).&lt;br /&gt;Pada hadits ini terdapat tiga pendapat dikalangan para ulama:&lt;br /&gt;1). Sebagian Ushuliyyin berdalil dengan hadits ini bahwasanya setiap perintah menunjukkan wajib hukumnya, dan segi pengambilan dalil mereka adalah: Kalimat “Laula” (kalaulah), menunjukkan atas peniadaan sesuatu karena ada sesuatu yang lain, maka menunjukkan atas peniadaan suatu perintah karena ada rasa berat, bahwa peniadaan karena rasa berat itu bukanlah sunnah, sesungguhnya sunnah siwak itu telah tetap (dilakukan) ketika setiap akan shalat, maka menuntut yang demikian itu bahwa perintah menunjukan wajib.&lt;br /&gt;2). Bersiwak adalah mustahab (sunnah) hukumnya pada beberapa keadaan, termasuk didalamnya adalah apa yang menunjukkan atas disunnahkannya adalah hadits ketika seseorang berdiri untuk shalat, dan rahasia permasalahan dianjurkannya bersiwak ketika hendak akan shalat adalah kita diperintah dalam setiap keadaan supaya beramal sebaik mungkin tatkala beribadah kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Dan ada yang berkata: (Karena) permasalahan ini berkaitan dengan para malaikat, sebab malaikat merasa terganggu dengan bau yang tidak sedap (yang berasal dari gigi dan mulut).Hadits dengan keumumannya menunjukkan atas disunnahkannya bersiwak ketika hendak shalat.” (Ihkamul Ahkam: I/55-56)&lt;br /&gt;3). Mayoritas ulama berpendapat bahwa bersiwak hukumnya adalah sunnah, dan menjadi sunnah muakkad pada waktu-waktu tertentu. (Taisirul ‘Allam: 1/39, Al-Umm: 1/35, Subulus Salam: 1/63, Fathul bary: 1/9 dan Al-Mulakhas Al-Fiqhiy: 1/29).&lt;br /&gt;Adapun apabila ada yang berpendapat bahwa bersiwak hukumnya adalah wajib dan berhujjah dengan hadits: “Wajib atas kalian untuk bersiwak, karena dengan bersiwak akan membersihkan mulut dan diridhai oleh Allah –Tabaraka wata’ala-“ (HR. Ahmad: 2/09, lihat Ash-Shahihah: 2517), maka perlu diketahui bahwa suatu perintah yang dia itu menunjukkan suatu kewajiban akan berubah hukumnya menjadi mustahab (sunnah) apabila ada suatu dalil yang memalingkannya kepada yang sunnah, Al-Imam Syaukani –rahimahullah- berkata: “Bersiwak adalah hukumnya sunnah, dan dalilnya adalah hadits yang sudah mutawatir baik itu berupa perkataan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, perbuatannya dan tidak ada perbedaan pendapat (dikalangan kami) tentang yang demikian itu.” (Ad-Darari Al-Mudhiyah, hal. 48 dan At-Ta’liqat Ar-Radhiyah: 1/168).&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata: “Mayoritas ulama berpandangan bahwa bersiwak hukumnya adalah sunnah, bukan wajib, kami tidak mengetahui ada seorang pun yang berpendapat bahwa bersiwak itu wajib kecuali Ishaq dan Dawud Azh-Zhahiri.” (Al-Mughni: 1/119).&lt;br /&gt;1.3 Syari'at Siwak&lt;br /&gt;Bersiwak adalah termasuk dari bagian dari sunnah para Rasul, sebagaimana hadits dari Abu Ayyub –radhiyallahu 'anhu- : "Ada empat hal yang termasuk dari sunnah para Rasul; Memakai minyak wangi, menikah, bersiwak dan malu” (HR. Ahmad; 23470 dan Tirmidzi: 1081, dan beliau berkata: Hadits ini hasan gharib).&lt;br /&gt;Asy-Syaikh DR. Shalih Fauzan –hafidzahullah- berkata: "Orang yang pertama kali bersiwak adalah Nabi Ibrahim -'alaihis salam-. Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- menjelaskan bahwa bersiwak dapat membersihkan mulut, yakni membersihkan dari hal-hal yang tidak disukai, (bersiwak) juga sebagai penyebab datangnya ridha Allah, yakni menjadikan Allah -Subhanahu wa ta'ala- menjadi ridha. Dalam anjuran mengamalkannya telah terdapat lebih dari seratus hadits. semuanya menunjukkan bahwa bersiwak adalah sunnah muakkadah. Syariat telah menganjurkan dan menghimbau untuk diamalkan. Siwak memiliki beberapa faedah yang sangat besar, diantaranya yang paling besar adalah yang telah dianjurkan oleh hadits: "Siwak itu pembersih mulut dan diridhai Allah” (HR. Bukhari Kitabus Shiyam Bab 27, Ad-Darimy juz I Kitabul Wudhu bab 19 hal. 174, Ahmad dalam Al-Musnad juz I hal. 3 dari Abu Bakar dan hal. 10, dan An-Nasai juz I Kitabut Thaharahi Bab.4. Dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany di dalam Shahihil Jami' no. hadits 3695). Bersiwak adalah dengan menggunakan batang yang lembut dari pohon arak, zaitun, urjun atau yang semisalnya yang tidak menyakiti atau melukai mulut” (Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy: 1/30 dan Akhshar Al-Mukhtashar, hal. 9).&lt;br /&gt;1.4 Waktu-waktu Disunnahkannya Bersiwak&lt;br /&gt;Asy-Syaikh DR. Shalih Fauzan berkata: “Bersiwak disunnahkan disetiap keadaan, bahkan sekalipun yang berpuasa disepanjang harinya, demikianlah pendapat yang benar. dan menjadi sunnah muakadah pada waktu tertentu” (Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy: 1/30)&lt;br /&gt;Keterangan dari perkataan diatas:&lt;br /&gt;Disunnahkan bersiwak dalam setiap keadaan. (Syahr Riyadhus Shalihin: 3/264, Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy: 1/30, Akhshar Al-Mukhtashar, hal. 92, Al-Umm: 1/35) dan Al-‘Uddah Syarh ‘Umdah, hal. 34).Asy-Syaikh Ibnu ‘Aqil berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat para ulama mazhab (dikalangan kami) bahwasanya bersiwak tidak disunnahkan bagi orang yang berpuasa setelah matahari tergelincir” (Al-‘Uddah Syarh ‘Umdah, hal. 35).&lt;br /&gt;Apabila ada orang yang berpendapat disunnahkannya bersiwak walaupun dalam keadaan berpuasa dan berdalil dengan hadits ‘Amir bin Rabi’ah: “Aku melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam beberapa kali yang tidak bisa aku hitung, beliau bersiwak dalam keadaan berpuasa.” Maka pendalilan tersebut tertolak karena hadits yang dijadikan dalil adalah hadits dho’if, sebagaimana telah didho’ifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Dho’if Abi Dawud; 551, Dho’if At-Tirmidzi; 16 dan lihat Al-Irwa’; 68).&lt;br /&gt;Dan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh DR. Shalih Fauzan dan para ulama selain beliau, bahwa bersiwak dalam keadaan berpuasa adalah boleh dan disunnahkan. (Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy: 1/30). Perkara tersebut karena ketidak adanya dalil yang melarang untuk bersiwak ketika sedang berpuasa baik itu sebelum matahari tergelincir atau setelah matahari tergelincir, namun yang ada hanyalah anjuran untuk bersiwak dalam konteks umum (yakni bersiwak disetiap waktu atau setiap keadaan). Wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;Ringkasnya: “Boleh bagi orang yang berpuasa untuk bersiwak baik itu sebelum matahari tergelincir atau setelah matahari tergelincir” (Tamamul Minnah: 1/60). Adapun diantara waktu-waktu yang sunnah muakkad untuk bersiwak ada beberapa perkataan para ulama:&lt;br /&gt;1). Al-Imam Abdurrahman bin Ibrahim Al-Maqdisy –rahimahullah- berkata: “Bersiwak akan menjadi sunnah muakkad pada tiga tempat:&lt;br /&gt;√ Ketika terjadi perubahan bau mulut, karena sesungguhnya asal disunnahkannya bersiwak karena untuk menghilangkan bau (tidak sedap) pada mulut.&lt;br /&gt;√ Ketika bangun dari tidur, sebagaimana hadits Khudzaifah Ibnul Yaman: Dari Hudzaifah Ibnul Yaman -radhiyallahu 'anhu-, beliau berkata: Jika Rasulullah -shallallahu'alaihi wa sallam- bangun malam, beliau&lt;br /&gt;menggosok (membersihkan) mulutnya dengan siwak." (HR.&lt;br /&gt;Bukhari; 245 dan Muslim; 255).&lt;br /&gt;√ Ketika setiap akan shalat, dengan hujjah hadits Abu Hurairah: Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-, dari Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam-, Beliau bersabda: "Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat." (HR. Bukhari (2/374/887), Muslim (1/220/252) dan Tirmidzi (1/18/22) lihat Shahihul jami' No. Hadits 5315).&lt;br /&gt;2). Al-Imam An-Nawawy berkata: “Bersiwak hukumnya mustahab dilakukan pada setiap waktu, tetapi lebih ditekankan lagi pada waktu yang lima, yaitu ketika setiap akan shalat, ketika setiap akan wudhu, ketika membaca Al-Qur’an, katika bangun tidur dan ketika mulut sudah mulai berbau.” (Bagaimana Seorang Muslim Mengenal Agamanya, hal. 310).&lt;br /&gt;3). Samahatusy Syaikh Ibnu Baz –rahimahullah- berkata: “Bersiwak akan menjadi sunnah muakkad pada beberapa tempat: Ketika akan berwudhu, Ketika hendak akan shalat, ketika masuk rumah, ketika bangun dari tidur, ketika terjadi perubahan bau mulut dari bau yang tidak sedap atau karena telah kotor.” (Syarh Riyadhus Shalihin: 3/264).&lt;br /&gt;4) Sebagai tambahan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya membuat Bab khusus tentang ditekankannya bersiwak pada hari Jum’at yaitu dalam dalam Kitabul Jumu’ati Bab Ath-Thibbi Lil Jumu’ati, no. 880 dan Bab As-Siwaki Yaumul Jumu’ati, no.hadits 887, 888, dan 889).&lt;br /&gt;Dari beberapa perkataan tersebut tujuannya:&lt;br /&gt;Untuk membersihkan mulut dan mencari keridhaan Allah, dari Aisyah –radhiyallahu ‘anha- bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: "Siwak itu pembersih mulut dan diridhai Allah.” (HR. Bukhari Kitabus Shiyam Bab 27, Ad-Darimy juz I Kitabul Wudhu bab 19 hal. 174, Ahmad dalam Al-Musnad juz I hal. 3 dari Abu Bakar dan hal. 10, dan An-Nasai juz I Kitabut Thaharahi Bab.4. Dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany di dalam Shahihil Jami' no. hadits 3695).&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Bahwa bersiwak akan menjadi sunnah muakkad pada waktu-waktu tertentu, diantaranya:&lt;br /&gt;1) Setiap akan Berwudhu&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-, dari Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam-, Beliau bersabda: "Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu.” (HR. Malik:1/66, Al Baihaqi:1/35, Ibnu Huzaimah:1/73 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany di dalam Shahihil Jami' no. 5317, shahihut Targhib no. 201 dan Al-Irwa': 1/109).&lt;br /&gt;Asy-Syaikh DR. Shalih Fauzan berkata: "Hadits ini menunjukkan dengan tegas bahwa bersiwak adalah sunnah pada setiap akan berwudhu. Hal itu dilakukan ketika sedang berkumur-kumur karena hal itu akan membantu mengharumkan dan membersihkan mulut” (Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy, hal. 30).&lt;br /&gt;2) Setiap akan melakukan shalat.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-, dari Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam-, Beliau bersabda: "Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat." (HR. Bukhari (2/374/887), Muslim (1/220/252) dan Tirmidzi (1/18/22) lihat Shahihul jami' No. Hadits 5315)&lt;br /&gt;Al-Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata: “Dalam hadits ini menunjukkan bahwasanya siwak tidaklah wajib, dan bahwasanya seseorang diberi pilihan, karena jika hukumnya wajib niscaya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- akan memerintahkan mereka, baik mereka merasa berat ataupun atau tidak merasa berat.” (Al-Umm: 1/35)&lt;br /&gt;Hikmah disunnahkannya bersiwak ketika hendak akan shalat, diantaranya berkata Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied –rahimahullah-:&lt;br /&gt;Rahasia permasalahan dianjurkannya bersiwak ketika hendak akan shalat adalah kita diperintah dalam setiap keadaan supaya beramal sebaik mungkin tatkala beribadah kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Dan ada yang berkata: (Karena) permasalahan ini berkaitan dengan para malaikat, sebab malaikat merasa terganggu dengan bau yang tidak sedap (yang berasal dari gigi dan mulut).&lt;br /&gt;Maka Imam Ash-Shan'ani –rahimahullah- berkata: "Rahasia permasalahan ini mencakup dua perkara yang telah disebutkan, sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu 'anhu: "Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau jengkol, maka sekali-kali jangan mendekati masjid kami, karena para malaikat terganggu dengan apa-apa yang manusia terganggu dengannya." (Taisirul 'Allam: 1/40 dan Subulussalaam: 1/64).&lt;br /&gt;4) Setiap Bangun dari Tidur&lt;br /&gt;Dari Hudzaifah Ibnul Yaman -radhiyallahu 'anhu-, beliau berkata: Jika Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bangun malam, beliau menggosok (membersihkan) mulutnya dengan siwak." (HR. Bukhari; 245 dan Muslim; 255).&lt;br /&gt;Asy-Syaikh DR. Shalih Fauzan berkata: "Siwak juga menjadi sunnah muakadah ketika seseorang bangun dari tidur di malam atau siang hari. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- jika bangun tidur dimalam hari, beliau menggosok mulutnya dengan siwak. hal itu dikarenakan bersamaan dengan proses tidur, maka berubahlah bau mulut, yang disebabkan peningkatan gas dalam lambung.” (Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy: 1/30).&lt;br /&gt;Hikmah disunnahkannya bersiwak ketika bangun tidur.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam –rahimahullah- berkata: "Termasuk tanda kecintaan Nabi -shallallahu 'aihi wa sallam- kepada kebersihan dan ketidak sukaannya terhadap bau tidak enak, tatkala bangun dari tidur malam yang panjang, yang mana saat itu dimungkinkan bau mulut sudah berubah, maka beliau menggosok giginya dengan siwak untuk menghilangkan bau tidak sedap, dan untuk menambah semangat setelah bangun tidur, karena termasuk kelebihan siwak adalah menambah daya ingat dan semangat." (Taisirul 'Allam: 1/41).&lt;br /&gt;Apakah Bersiwak Khusus Ketika Bangun Tidur Pada Malam Hari?&lt;br /&gt;Jika ada yang berkata tidaklah layak bagi seseorang untuk berdalil dengan hadits Khudzaifah Ibnul Yaman atas ditekankannya untuk bersiwak ketika tidur pada siang hari, karena dalil itu khusus untuk malam hari, dan tidaklah mungkin menjadikan dalil khusus kepada yang umum.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin –rahimahullah- berkata: “Tidak ada pencegah tentang keberadaan hadits Khudzaifah tersebut, karena anjuran hadits tersebut juga ketika bangun dari tidur pada siang hari, karena bahwasanya ‘illahnya hanya satu yaitu perubahan bau mulut ketika tidur”. (Al-Mumti’: 1/109).&lt;br /&gt;4). Setiap akan Masuk Rumah&lt;br /&gt;Dari Miqdam bin Syuraih dari ayahnya (Syuraih), ia berkata: "Saya bertanya kepada Aisyah -radhiyallahu 'anha-: Dengan apa Rasulullah -shallallahu 'aihi wa sallam- memulai ketika masuk ke rumahnya? Aisyah menjawab: "Dengan siwak." (HR. Muslim dalam kitabut Thaharah juz II bab 43 hal. 12 Syarh Shahih Muslim oleh An-Nawawy, Imam Ahmad dalam Musnad-nya juz VI hal. 42, 110 dan 182, An-Nasai juz I kitabut Thaharah Bab 7, Ibnu Majah juz I Kitabut Tharah bab VII hal. 106).&lt;br /&gt;5). Ketika hendak membaca Al Qur'an&lt;br /&gt;Dari Ali -radhiyallahu 'anhu- berkata : Rasulullah -shallallahu 'aihi wa sallam- memerintahkan kami bersiwak, sesungguhnya seorang hamba apabila berdiri sholat malaikat mendatanginya kemudian berdiri dibelakangnya mendengar bacaan Al Qur'an dan ia mendekat. Maka ia terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan mulutnya diatas mulut hamba itu, sehingga tidaklah dia membaca satu ayatpun kecuali berada dirongganya malaikat" (HR. Al Baihaqy dan Ad Dhiya'. Lihat Sislsilah Al Ahadits As Shahihah 1213).&lt;br /&gt;6). Setiap hari Juma’at&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata pada hari Jum’at: Kaum muslimin, sesungguhnya hari ini Allah telah menjadikannya untuk kalian sebagai ‘Ied (hari raya) maka mandilah kalian, dan hendaklah kalian bersiwak”. Berkata Al-Haitsamy dalam Al-Majmu’ 2/176 diriwayatkan oleh Ath-Thabrany dalam Al-Ausath dan para rawinya tsiqah (terpercaya), (Lihat Ahkamul Jum’ah, hal. 60).&lt;br /&gt;Dari Abu Sa’id Al-Khudry, dia berkata: “Aku menyaksikan rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Beliau berkata: “Mandi pada hari Jum’at wajib atas setiap muhtalim (orang yang sudah baligh), dan menggosok gigi dan mengusapkan minyak wangi (pada anggota tubuh) yang dapat dijangkau (dengan tangan).” (HR. Bukhari dalam Kitabul Jumu’ati Bab Ath-Thib Lil Jumu’ati, no. 880, dan Lihat Al-Lu’lu’ wal Marjan, hal. 144).&lt;br /&gt;1.5 Sifat Bersiwak.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh DR. Shalih Fauzan berkata: "Menggosokkan (bersiwak) diatas gusi dan gigi, dimulai dari sebelah kanan menuju sebelah kiri, siwak dipegang dengan tangan kiri." (Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy: 1.30).&lt;br /&gt;Bersiwak dengan Tangan Kanan atau dengan Tangan Kiri?&lt;br /&gt;Bersiwak boleh dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri, karena perkaranya ada keluasaan, karena anjuran bersiwak dengan tangan kanan atau dengan tangan&lt;br /&gt;kiri tidak ada dalil yang ditekankannya untuk bersiwak dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri. Dan sungguh telah berpendapat sebagian ulama bahwa disunnahkan bersiwak dengan tangan kiri karena (tujuannya) untuk kebersihan, dan sebagian ulama yang lain berpendapat sunnah bersiwak dengan tangan kanan karena dia adalah ibadah. Sesangkan menurut mazhab Malikiyah ada perincian: Apabila seseorang bersiwak karena tujuannya untuk kebersihan maka bersiwak dengan tangan kiri, dan apabila seseorang bersiwak karena (tujuan) ibadah, seperti bersiwak setiap akan shalat maka bersiwak dengan kanannya. Dan ini adalah rincian yang bagus. Dan yang paling utama adalah boleh menggunakan kedua-duanya.” (Tamamul Minnah: 1/60).&lt;br /&gt;Sebagian dari kalangan mazhab Hanabilah berpendapat bahwa bersiwak dengan tangan kanan, mereka berdalil dengan hadits Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- senang dengan mendahulukan yang kanan ketika menyisir rambutnya, ketika mengenakan sandal, bersuci, dan bersiwak” (HR. Abu Dawud no. 4140), namun dzahir dari hadits tersebut adalah Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- ketika mau bersiwak beliau memulai dengan yang kanan, dan tanpa ada keterangan bahwa beliau –shalallahu ‘alaihi wa sallam- memegang siwak dengan tangan kanan, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata: “ bersiwak (dengan menggunakan tangan kanan atau tangan kiri) perkaranya ada keluasan karena tidak adanya nash yang jelas.” (Syarhul Mumti’: 1/111).&lt;br /&gt;Menggunakan Siwak apakah dengan Memanjang ataukah dengan Melintang?&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- menerangkan tata cara menggunakan siwak apakah dengan memanjang ataukah melintang, beliau berkata: “Cara penggunaannya kembali kepada apa yang dituntut oleh keadaan, jika keadaan menuntut bersiwak dengan memanjang maka dilakukan dengan memanjang, apabila keadaan menuntut bersiwak dengan melintang maka dilakukan dengan melintang, karena tidak ada sunnah yang jelas dalam perkara ini.” (Al-Mumti’: 1/110).&lt;br /&gt;Bersungguh-sungguh ketika Bersiwak!&lt;br /&gt;Abu Musa Al-Asy’ary –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Aku pernah mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ketika itu beliau sedang bersiwak dengan siwak yang masih segar (basah). Ujung siwak diatas lisan (lidah) beliau dan beliau berkata: ‘Agh, ‘agh. sedangkan siwak didalam mulut beliau” (HR. Bukhari, no. 244 dan Muslim, no.591).&lt;br /&gt;Dari hadits tersebut dapat diambil faedah, diantaranya:&lt;br /&gt;√ Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- berkata:&lt;br /&gt;“Seyogyanya seseorang bersungguh-sungguh ketika bersiwak (membersihkan) mulutnya” (At-Ta’liqat Ar-Radhiyah: 1/168).&lt;br /&gt;√ Siwak adalah alat untuk membersihkan gigi dan mulut. Siwak juga dapat membersihkan lidah.” (Fathul Bary: 1/422-423)&lt;br /&gt;Dua Orang Menggunakan Satu Siwak?&lt;br /&gt;Dari Aisyah –radhiyallahu ‘anhu- dia berkata: “Masuk Abdurrahman bin Abu Bakar, dan dia membawa siwak sambil menggosokan giginya dengan siwak tersebut. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihat kepadanya, aku mengambil siwak tersebut dari Abdurrahman, kemudian aku patahkan ujungnya lalu aku mengikisnya (memperbaikinya dengan gigiku) kemudian aku berikan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka dia pun bersiwak dengannya dan beliau dalam keadaan bersandar didadaku.” (HR. Bukhari, no. 890).&lt;br /&gt;Dari Aisyah –radhiyallahu ‘anhu- dia berkata: “Nabiullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersiwak, lalu diberikan kepadaku siwak tersebut untuk memncucinya. Maka aku menggunakannya untuk bersiwak, kemudian (setelah aku gunakan) aku mencucinya, kemudian aku menyerahkannya kepada beliau.” (HR. Abu Dawud, no.52).&lt;br /&gt;Faedah dari dua hadits diatas, diantaranya:&lt;br /&gt;√ Bolehnya seseorang bersiwak dengan siwak orang lain (apabila pemilik siwak ridha), dan sebelum digunakan sebaiknya siwak dicuci, apabila tidak dimungkinkan untuk&lt;br /&gt;dicuci maka cukup diperbaiki.&lt;br /&gt;√ Bolehnya bersiwak dihadapan orang lain. (Lihat Ihkamul Ahkam, Juz 1 Kitab Thaharah Bab Siwak, hal. 57-58).&lt;br /&gt;1.6 Hikmah Bersiwak&lt;br /&gt;1.6.1 Menurut pandangan Ulama&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly berkata: “Saat ini alat-alat modern berupa sikat dan pasta gigi atau semisalnya memiliki fungsi yang sama dengan tangkai kayu arak, hanya saja tangkai kayu arak merupakan siwak yang terbaik disebabkan banyak rahasia kemanfaatan yang dikandungnya juga keistimewaan yang tidak didapatkan pada selainnya. Diantara kekhususannya: Ia dapat membunuh bakteri-bakteri yang ada pada mulut yang menyebabkan banyak macam penyakit yang berhubungan dengan dengan mulut dan gigi. Juga padanya ada garam yodium, bahan pewangi yang enak, gula, dan komposisi lainnya yang hanya didapatkan pada kayu arak tidak pada alat pembersih dan penyegar mulut dan gigi lainnya.” (Bagaimana Seorang Muslim Mengenal Agamanya, hal. 309).&lt;br /&gt;Apakah Boleh Bagi Sesesorang Menggosok Giginya atau Memersihkan Mulutnya dengan Selain Siwak?&lt;br /&gt;Seseorang boleh membersihkan mulutnya (menggosok giginya) dengan selain siwak, akan tetapi yang paling afdhal yaitu dengan menggunakan siwak. (Tamamul Minnah: 1/60).&lt;br /&gt;1.6.2 Menurut pandangan Ilmu Pengetahuan&lt;br /&gt;Siwak dapat menjaga kebersihan gigi dan mulut dan mencegah parasit (Entamoeba Gingivalis dan trichomonas) yang merupakan sebab munculnya bau tidak sedap pada mulut. Parasit ini habitat (tempat hidupnya) di rongga mulut tepatnya pada gigi yang berlubang. jika mulut dan gigi kebersihannya terjaga maka parasit ini tidak dapat survive (mati). Parasit ini cara pencegahannya adalah dengan menjaga hygiene (kebersihan mulut). Maka disini berlakulah perkataan orang-orang "Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati". Wallahu a'lam wa ahkam, Wabillahit-taufiq.&lt;br /&gt;II. KISAH ORANG YANG MENGEJEK SIWAK&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobiy -hafidzahullah- berkata: "Telah disebutkan oleh Ibnu Katsir –rahimahullah- didalam Al-Bidayah wan Nihayah tentang kejadian-kejadian pada tahun 665, beliau –rahimahullah- berkata Asy-Syaikh Qathbuddin Al-Yunani berkata: "Telah sampai kepada kami bahwasanya seorang laki-laki yang dipanggil dengan Abu Salamah dari daerah Bushra, dia suka bercanda dan berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Disebutkan disisinya tentang siwak dan keutamaannya, maka dia berkata: "Demi Allah, aku tidak akan bersiwak kecuali di dubur, kemudian dia mengambil sebatang siwak dan memasukkannya keduburnya kemudian dikeluarkan kembali." Berkata Qathbuddin Al-Yunani: "Setelah melakukan perbuatan tersebut, ia tinggal selama sembilan bulan dalam keadaan mengeluh sakit perut dan dubur. Berkata Qathbuddin Al-Yunani: "Lalu ia melahirkan anak seperti tikus yang pendek dan besar, memiliki empat kaki, kepalanya seperti kepala ikan, memiliki empat taring yang menonjol, panjang ekornya satu jengkal empat jari dan duburnya seperti dubur kelinci. Ketika lelaki itu melahirkannya, hewan tersebut menjerit tiga kali, maka bangkitlah putrinya laki-laki tadi dan memecahkan kepalanya sehingga matilah hewan tersebut. Laki-laki itu hidup setelah melahirkan selama dua hari, dan meninggal pada hari yang ketiga. Dan ia sebelum meninggal berkata "Hewan itu telah membunuhku dan merobek-robek ususku." Sungguh kejadian tersebut telah disaksikan oleh sekelompok penduduk daerah tersebut dan para khotib tempat tersebut. diantara mereka ada yang menyaksikan hewan itu ketika masih hidup dan ada pula yang menyaksikan ketika hewan itu sudah mati." (Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid, hal. 106-107)&lt;br /&gt;Kisah tersebut sangatlah pantas dan cocok untuk kita ambil pelajaran, dengan kisah itu mengingatkan kita untuk tidak bermudah-mudahan berucap apalagi kalau sampai mengejek As-Sunnah, sungguh jauh-jauh hari sebelumnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda:&lt;br /&gt;“Wahai manusia, berhati-hatilah terhadap ucapan kalian, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaithan.” (HR. An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dikatakan dalam Ash-Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 786; hadits Shahih menurut syarah Muslim).&lt;br /&gt;Semoga dengan kisah tersebut menjadi sebab bagi kita untuk mudah dalam menerima dan melaksakan As-Sunnah dan menjauhkan kita dari sifat meremehkan dan menentang As-Sunnah. Sungguh Allah –‘Azza wa Jalla- telah memberikan peringatan untuk kita sebagaimana firmannya: ".....maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi ajaran Rasul takut ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nuur: 63).&lt;br /&gt;Akhirnya, semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi kami dan segenap kaum muslimin. Washallallahu ‘ala Muhammad wa Aalihi Washahbihi wasallam walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji':&lt;br /&gt;1. Al-Qur’anul Karim&lt;br /&gt;2. Shahihul Bukhari, -Al-Imam Abu Abdillah Muhammad Al-Bukhari-, Darul Kutub Al-Ilmiyah- 1425 H-2004 M&lt;br /&gt;3. Al-Lu’lu’ wal Marjanfimat Tafaqqaha ‘alaihis Syaikhani,- Muhammad Fuad Abdul baqy- Darul Hadits.&lt;br /&gt;4. Riyaadhush Shaalihin, Al-Imam Abi Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawy, Daar Al-Fikr -1414 H-1994 M&lt;br /&gt;5. Syarh Riyaadhush Shaalihin min Kalaami Sayyidil Mursaliin –Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Nashiruddin Al-Albani- Daar Mustaqbal dan Daar Al-Imam Maalik, 1426 H-2005 M&lt;br /&gt;6 Fathul Baary Bisyarhi Shahih Al-Bukhary, Al-Hafidz Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-Asqalany, Daar Al-Hadits- 1424 H- 2004 M&lt;br /&gt;7 Umdatul Ahkaam min Kalaam Khoiril Anaam, Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisiy. Dar Ibnu Khuzaimah, 1420H-1999M.8 Umdatul Ahkaam Al-Kubra, Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisiy. –tanpa penerbit-&lt;br /&gt;9. Taisirul 'Allam Syarh 'Umdatul Ahkaam, Syaikh Abdullah Alu bassam, Dar Al-'Aqidah. 1422H-2002 M&lt;br /&gt;10. Subulussalaam Syarh Buluughul Maraam, Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Amiir Ash-Shan’any, Daar Al-Fiqr -1411 H-1991 M&lt;br /&gt;12. Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatul Ahkam-, Syaikh Ibnu Daqiqil ‘Ied-, Darul Kutub Al-Ilmiyah-, 1426 H-2005 M&lt;br /&gt;13. Al’Uddah Syarh ‘Umdah-, Al-Imam Abdurrahman bin Ibrahim Al-Maqdisy-, Darul ‘Adil jaded-, 146 H-2005 M.&lt;br /&gt;14. Akhsharul Mukhtashar fi Fiqhi ‘ala Mazhab Al-Hambaly-, Al-Imam Muhammad Ad-Dimasyqy-, Darul Basyiril Islmiyah.&lt;br /&gt;15. Ad-Drary Al-Mudhiyah Syarh Ad-Dariry Bahiyah-, Al-Imam Muhammad bin Ali Syaukani-, Darul Kutub Al-Ilmiyah-, 1424 H-2003 M.&lt;br /&gt;16. At-Ta’liqat Ar-Radhiyah ‘ala Ar-Raudatin Nadiyyah-, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani-, Dar Ibnu ‘Affan-, 1420 H- 1999 M.&lt;br /&gt;17. Tamamul Minnah fii Fiqhil Kitab wa Shahih As-Sunnah-, Asy-Syaikh Abu Abdirrahman ‘Adil Al-‘Azzaziy-, Darul ‘Aqidah.&lt;br /&gt;18. Al-Mughni wayalih Asy-Syarhul Kabiir-, Al-Imam Syamsuddin Abdurrahman Ibnu Qudamah Al-Maqdisy-, Darul Hadits-, 1425 H-2004 M.&lt;br /&gt;19. Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqi’-, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin-, Markas Fajr Lithiba’ah-, 2000 M.&lt;br /&gt;20. Ahkamul Jum’ah-, Asy-Syaikh Abu Abdirrahman Yahya bin Ali Al-Hajuri-, Dar Syarqain An-Nasyr wat Tazi’-, 143 H-2000 M.&lt;br /&gt;21. Al-Umm, Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Idriis Asy-Syafi’I, Daarul Fikr, 1422 H - 2002 M&lt;br /&gt;22. Al-Mulakhkhas Al-Fiqhiy, Asy-Syaikh DR. Shalih Fauzan,&lt;br /&gt;Dar Al-'Aqidah. 1424H-2003 M&lt;br /&gt;23. Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad Abdul Wahhab Al-Wushobiy. Dar Ibnu Hazm, 1427H-2006&lt;br /&gt;RUJUKAN BERBAHASA INDONESIA&lt;br /&gt;24. Bagaimana Seorang Muslim Mengenal Agamanya, Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhaly, Cahaya Tauhid Press 1425 H-2005 M&lt;br /&gt;RUJUKAN DARI INTERNET&lt;br /&gt;25. http://darussalaf.org/index.php?name=News&amp;amp;file=article&amp;amp;sid=570&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-1222961688994742854?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/1222961688994742854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=1222961688994742854' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1222961688994742854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1222961688994742854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/siwak-pembersih-mulut-yang-diridhai.html' title='SIWAK (Pembersih Mulut yang Diridhai Allah)'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R6HubdLBBDI/AAAAAAAAAH8/R4Ja7KsgAb0/s72-c/Siwak2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-5949312741394870136</id><published>2008-01-26T14:24:00.001+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:51.564+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herbal Plus'/><title type='text'>Keutamaan Bersiwak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5saKtLBBBI/AAAAAAAAAHs/Ssn5s3uyLew/s1600-h/Siwak1.jpeg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5saKtLBBBI/AAAAAAAAAHs/Ssn5s3uyLew/s400/Siwak1.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159746569309848594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari&lt;br /&gt;http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;amp;id_online=408&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersiwak (membersihkan mulut dengan kayu dari pohon araak) merupakan perbuatan yang sangat disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa waktu yang sangat dianjurkan oleh syariat untuk kita bersiwak. Bila kita mampu menjalankan ajaran Rasulullah ini Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak hanya mulut kita yang menjadi bersih, namun pahala dan keridhaan Allah pun insya Allah bisa kita raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata siwak bukan lagi sesuatu yang asing di tengah sebagian kaum muslimin, meskipun sebagian orang awam tidak mengetahuinya disebabkan ketidaktahuan mereka tentang agama. Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;Pengertian siwak sendiri bisa kembali pada dua perkara:&lt;br /&gt;Pertama, bermakna alat yaitu kayu/ranting yang digunakan untuk menggosok mulut guna membersihkannya dari kotoran. Asalnya adalah kayu dari pohon araak.&lt;br /&gt;Kedua, bermakna fi’il atau perbuatan yaitu menggosok gigi dengan kayu siwak atau semisalnya untuk menghilangkan warna kuning yang menempel pada gigi dan menghilangkan kotoran, sehingga mulut menjadi bersih dan diperoleh pahala dengannya (Fathul Bari 1/462, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 3/135, Subulus Salam 1/63, Taisirul ‘Allam Syarhu ‘Umdatil Ahkam, 1/62).&lt;br /&gt;Dengan demikian, disenangi bersiwak dengan kayu siwak dari araak atau dengan apa saja yang bisa menghilangkan perubahan bau mulut, seperti membersihkan gigi dengan kain perca atau sikat gigi. (Nailul Authar, 1/154)&lt;br /&gt;Namun tentunya bersiwak dengan menggunakan kayu siwak lebih utama. Karena, hal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditunjukkan dalam hadits-hadits yang berbicara tentang siwak.&lt;br /&gt;Hukum bersiwak ini sunnah –tidak wajib– dalam seluruh keadaan, baik sebelum shalat ataupun selainnya. Dan ini merupakan pendapat yang rajih yang dipegangi oleh penulis. Ini juga merupakan pendapat jumhur ulama, menyelisihi sebagian ulama yang memandang wajibnya perkara ini. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu mengatakan: “Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang berpendapat bersiwak itu wajib kecuali Ishaq dan Dawud Azh-Zhahiri.” (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, bab As-Siwak wa Sunnatul Wudhu).&lt;br /&gt;Dalil tidak wajibnya bersiwak ini diisyaratkan dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya aku tidak memberati umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.”&lt;br /&gt;Al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahullahu mengatakan: “Dalam hadits ini ada dalil bahwa siwak tidaklah wajib. Seseorang diberi pilihan (untuk melakukan atau meninggalkannya, pent.). Karena, jika hukumnya wajib niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan mereka, baik mereka merasa berat ataupun tidak.” (Al-Umm, kitab Ath-Thaharah, bab As-Siwak).&lt;br /&gt;Kekhawatiran memberatkan umatnya merupakan sebab yang mencegah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mewajibkan bersiwak ini. (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 1/195)&lt;br /&gt;Bersiwak merupakan ibadah yang tidak banyak membebani, sehingga sepatutnya seorang muslim bersemangat melakukannya dan tidak meninggalkannya. Di samping itu, banyak faedah yang didapatkan berupa kebersihan, kesehatan, menghilangkan aroma yang tak sedap, mewangikan mulut, memperoleh pahala dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Taisirul ‘Allam, 1/62)&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits yang berbicara tentang siwak sehingga Ibnul Mulaqqin rahimahullahu dalam Al-Badrul Munir mengatakan: “Telah disebutkan dalam masalah siwak lebih dari seratus hadits.” (Subulus Salam, 1/63)&lt;br /&gt;Karena perkara bersiwak ini disenangi oleh Rasul kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah beliau tinggalkan sampai pun menjelang ajalnya, sementara kita diperintah dalam Al-Qur`an untuk menjadikan beliau sebagai qudwah, suri teladan, maka pembahasan tentang siwak tidak patut kita abaikan. Ditambah lagi, bersiwak ini termasuk sunnah wudhu dan termasuk thaharah yang kita dianjurkan untuk melakukannya. Semoga apa yang kami tuliskan ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan mudah-mudahan dapat diamalkan oleh kita semua. Amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersiwak&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian senang bersiwak. Beliau tidak melupakannya sampai pun pada detik-detik menjelang beliau dijemput kembali ke sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. ‘Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي، وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ، فَأَبَدَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضَمْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ، فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ ثُمَّ قَالَ: فِي الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى -ثَلاَثًا- ثُمَّ قَضَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdurrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan dadaku menjadi tempat sandaran beliau. ‘Abdurrahman membawa siwak yang masih basah yang dipakainya untuk bersiwak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat pandangan mata beliau, melihat siwak itu. Aku pun mengambil siwak tersebut lalu mematahkan ujungnya (dengan ujung gigi) serta memperbaikinya dan membersihkannya, kemudian aku berikan pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian bersiwak dengannya. Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak sebagus yang kulihat kali itu. Tidak berapa lama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari bersiwak, beliau mengangkat tangannya atau jarinya kemudian berkata: “Pada teman-teman yang tinggi (Ar-Rafiqil A‘la)1.” Lalu beliau pun wafat. (HR. Al-Bukhari no. 890, 4438)&lt;br /&gt;Dalam satu lafadz, ‘Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ. فَقُلْتُ: آخِذُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ أَنْ نَعَمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat beliau memandangi siwak tersebut dan aku tahu beliau menyukai bersiwak. Maka aku katakan: “Apakah aku boleh mengambilkannya untukmu?” Beliau mengisyaratkan “iya”, dengan kepala beliau (mengangguk untuk mengiyakan/sebagai persetujuan). (HR. Al-Bukhari no. 4449)2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersiwak Membersihkan Mulut dan Diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;br /&gt;‘Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siwak itu membersihkan mulut, diridhai oleh Ar-Rabb.” (HR. Ahmad, 6/47,62, 124, 238, An-Nasa`i no. 5 dan selainnya. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu‘allaq. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan An-Nasa`i, Al-Misykat no. 381, Irwa`ul Ghalil no. 65)&lt;br /&gt;Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma juga mengabarkan hal yang senada dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ فَإِنَّهُ مَطْيَبَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya bagi kalian untuk bersiwak. Karena dengan bersiwak akan membaikkan (membersihkan) mulut, diridhai oleh Ar-Rabb tabaraka wa ta’ala.” (HR. Ahmad 2/109, lihat Ash-Shahihah no. 2517)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu-waktu Disunnahkannya Bersiwak&lt;br /&gt;Bersiwak adalah sunnah (mustahab) dalam seluruh waktu. Namun ada lima waktu yang lebih ditekankan bagi kita untuk melakukannya (Al-Minhaj 1/135, Al-Majmu‘ 1/328, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/225). Waktu-waktu tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Setiap akan shalat dan wudhu&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR. Ahmad 2/400, Malik dalam Al-Muwaththa` no. 143 dengan Syarh Az-Zarqani. Disebutkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu‘allaq. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa`ul Ghalil no. 70)&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 887) dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 588) juga mengeluarkan hadits di atas, hanya saja lafadz akhirnya adalah: مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ (setiap kali hendak mengerjakan shalat). Selengkapnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali setiap kali hendak mengerjakan shalat.”&lt;br /&gt;Permasalahan disunnahkannya bersiwak ketika hendak shalat dan berwudhu ini diriwayatkan dari sejumlah shahabat. Di antaranya Abu Hurairah, Zaid bin Khalid, ‘Ali bin Abi Thalib, Al-’Abbas bin Abdil Muththalib, Ibnu ‘Umar, Abdullah bin Hanzhalah, dan selain mereka radhiyallahu 'anhum ajma’in. (Sunan At-Tirmidzi, kitab Ath-Thaharah, bab Maa Ja’a fis Siwak)&lt;br /&gt;Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu berkata: “Rahasia dianjurkannya kita bersiwak saat hendak shalat adalah kita diperintahkan dalam setiap keadaan taqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk berada dalam kesempurnaan dan kebersihan, dalam rangka menampakkan kemuliaan ibadah.”&lt;br /&gt;Ada pula yang berpendapat bahwa perkaranya berkaitan dengan malaikat. Karena malaikat akan terganggu dengan aroma tidak sedap yang keluar dari mulut seseorang. (Ihkamul Ahkam, kitab Ath-Thaharah, bab As-Siwak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketika masuk rumah&lt;br /&gt;Syuraih bin Hani` pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu 'anha:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟ قَالَتْ: بِالسِّوَاكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang mulai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan apabila beliau masuk rumah?” Aisyah menjawab: ‘Beliau mulai dengan bersiwak’.” (HR. Muslim no. 589)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Saat bangun tidur di waktu malam&lt;br /&gt;Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bangun di waktu malam beliau menggosok mulutnya dengan siwak.” (HR. Al-Bukhari no. 245, 889, 1136 dan Muslim no. 592, 594)&lt;br /&gt;Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma mengabarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَنَامُ إِلاَّ وَالسِّوَاكُ عِنْدَهُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur melainkan siwak berada di sisi beliau. Bila terbangun dari tidur, beliau mulai dengan bersiwak.” (HR. Ahmad 2/117, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih 1/503)&lt;br /&gt;Alasan disenanginya bersiwak pada saat seperti ini, kata Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu, adalah karena tidur menyebabkan berubahnya bau mulut. Sedangkan siwak merupakan alat untuk membersihkan mulut. Sehingga disunnahkan bersiwak tatkala terjadi perubahan bau mulut. (Ihkamul Ahkam, kitab Ath-Thaharah, bab As-Siwak)&lt;br /&gt;Dalam hal ini sama saja, baik bangunnya untuk mengerjakan shalat atau tidak. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُمْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَوَضَّأَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي وَقُمْتُ مَعَهُ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah bangkit bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau mulai bersiwak. Setelah itu beliau berwudhu. Kemudian beliau bangkit untuk mengerjakan shalat dan aku pun bangkit bersama beliau…” (HR. Ahmad 6/24, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih 1/503,504)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ketika hendak membaca Al-Qur`an&lt;br /&gt;Dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السِّوَاكُ مَطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siwak itu membersihkan mulut, diridhai oleh Ar-Rabb.” (HR. Ahmad 6/47,62, 124, 238, An-Nasa`i no. 5 dan selainnya. Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya secara mu‘allaq. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan An-Nasa`i, Al-Misykat no. 381, Irwa`ul Ghalil no. 65)&lt;br /&gt;Sementara membaca Al-Qur`an tentunya menggunakan mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Saat bau mulut berubah&lt;br /&gt;Perubahan bau mulut bisa terjadi karena beberapa hal. Di antaranya: karena tidak makan dan minum, karena memakan makanan yang memiliki aroma menusuk/tidak sedap, diam yang lama/tidak membuka mulut untuk berbicara, banyak berbicara dan bisa juga karena lapar yang sangat, demikian pula bangun dari tidur. (Al-Hawil Kabir 1/85, Al-Minhaj, 1/135)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersungguh-sungguh dalam Bersiwak&lt;br /&gt;Ketika seseorang bersiwak, hendaklah ia melakukannya dengan sungguh-sungguh, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu menceritakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ. قَالَ: وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ: أُعْ، أُعْ. وَالسِّوَاكُ فِي فِيْهِ كَأَنَّهُ بَتَهَوَّعُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu beliau sedang bersiwak dengan siwak basah. Ujung siwak itu di atas lidah beliau dan beliau mengatakan “o’, o’3" sedangkan siwak di dalam mulut beliau, seakan-akan beliau hendak muntah.” (HR. Al-Bukhari no. 244 dan Muslim no. 591)&lt;br /&gt;Hadits di atas menunjukkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam bersiwak, sampai-sampai hendak muntah karenanya. Selain itu, menunjukkan disenanginya bersiwak menggunakan siwak yang basah sebagaimana dalam hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu 'anha yang telah lewat tentang bersiwaknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafatnya. Di samping itu, hadits ini menunjukkan bahwa selain digunakan untuk membersihkan gigi, siwak dapat pula digunakan untuk membersihkan lidah. (Fathul Bari 1/463, Ihkamul Ahkam, kitab Ath-Thaharah, bab As-Siwak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Bersiwak&lt;br /&gt;Kata Al-Imam Al-Mawardi rahimahullahu, disenangi menggunakan siwak secara melintang ketika menggosok permukaan gigi dan bagian dalamnya. Dan siwak dijalankan di atas ujung-ujung gigi dan pangkal gigi geraham agar semuanya bersih dari kotoran warna kuning dan perubahan bau yang ada. Dijalankan pula di atas langit-langit dengan perlahan untuk menghilangkan bau yang ada. (Al-Hawil Kabir, 1/85)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan tentang permasalahan cara menggunakan siwak, apakah memanjang atau melintang: “Memungkinkan untuk dikatakan: cara penggunaannya kembali kepada apa yang dituntut oleh keadaan. Apabila keadaan menuntut untuk bersiwak dengan memanjang, maka dilakukan dengan memanjang. Apabila keadaan menuntut untuk bersiwak dengan melintang, maka dilakukan dengan melintang. Karena tidak adanya sunnah yang jelas dalam hal ini.” (Asy-Syarhul Mumti’, 1/105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersiwak dengan Tangan Kanan atau Tangan Kiri?&lt;br /&gt;Manakah yang lebih utama bersiwak dengan menggunakan tangan kanan atau tangan kiri?&lt;br /&gt;Zainuddin Abul Fadhl Abdurrahim bin Al-Husain Al-‘Iraqi rahimahullahu berkata: “Sebagian orang belakangan dari kalangan Hanabilah yang pernah aku lihat menyebutkan bahwa ia bersiwak dengan tangan kanannya. Karena terdapat dalam sebagian jalan hadits ‘Aisyah radhiyallahu 'anha yang masyhur bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi mendahulukan yang kanan ketika menyisir rambutnya, mengenakan sandal, bersuci, dan bersiwak.4&lt;br /&gt;Saya sendiri pernah mendengar dari sebagian guru kami dari kalangan Syafi’iyyah bahwa perkaranya dibangun di atas permasalahan apakah siwak itu termasuk bab tath-hir (pensucian) dan tathyib (mewangi-wangikan), atau termasuk bab menghilangkan kotoran? Bila kita menganggapnya termasuk bab tath-hir dan tathyib maka disenangi menggunakan siwak dengan tangan kanan. Namun bila kita menganggapnya termasuk bab menghilangkan kotoran, maka disenangi menggunakannya dengan tangan kiri. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu 'anha yang menyatakan bahwa tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kanan beliau gunakan untuk bersuci dan untuk makan, sedangkan tangan kiri beliau gunakan untuk cebok dan untuk perkara yang bersentuhan dengan kotoran. Haditsnya diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih.5 Abu Dawud meriwayatkan pula dari hadits Hafshah bintu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ يَجْعَلُ يَمِيْنَهُ لِطَعَامِهِ وَشَرَابِهِ وَثِيَابِهِ، وَيَجْعَلُ شِمَالَهُ لِمَا سِوَى ذلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beliau menggunakan tangan kanan beliau untuk makannya, minumnya dan berpakaiannya. Sedangkan tangan kiri beliau gunakan untuk selain itu.”6&lt;br /&gt;Namun sebenarnya dalil yang dijadikan sandaran oleh kalangan Hanabilah tersebut7 tidaklah mendukung pendapatnya (yaitu bersiwak menggunakan tangan kanan). Karena yang dimaukan dengan hadits tersebut adalah memulai bagian/belahan kanan dalam bersisir, memulai kaki kanan dalam memakai sandal, memulai dengan anggota kanan dalam bersuci/wudhu, memulai dengan sisi yang kanan dari mulut dalam bersiwak sebagaimana telah lewat. Adapun bila dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan tangan kanannya untuk melakukan hal itu, maka hal ini butuh penukilan (riwayat). Yang dzahir, bersiwak termasuk bab menghilangkan kotoran sebagaimana menghilangkan ingus dan semisalnya, maka dilakukan dengan tangan kiri.&lt;br /&gt;Abul ‘Abbas Al-Qurthubi dari kalangan Malikiyyah secara jelas menyatakan pendapat ini. Beliau berkata dalam Al-Mufhim menghikayatkan dari Al-Imam Malik: “Tidak boleh bersiwak dalam masjid karena bersiwak termasuk menghilangkan kotoran. Wallahu a‘lam.” (Tharhut Tatsrib 1/233)&lt;br /&gt;Namun larangan bersiwak dalam masjid ini tidak ada dalilnya, sehingga boleh dilakukan di dalam maupun di luar masjid bila memang diperlukan, berdasarkan keumuman hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali setiap kali hendak mengerjakan shalat.”&lt;br /&gt;Namun, sepantasnya seseorang tidak berlebih-lebihan dalam melakukannya, hingga sampai pada tingkat hendak muntah padahal berada di masjid. Karena khawatir dia akan muntah atau mengeluarkan darah sehingga mengotori masjid. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta`, no. 2432, 5/128)&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah rahimahullahu menyatakan disenanginya tayammun (mendahulukan bagian yang kanan) dalam bersiwak dan disenangi mencuci siwak dengan air untuk menghilangkan kotoran yang mungkin menempel padanya. Sebagaimana ‘Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ نَبْيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ فَيُعْطِيْنِي السِّوَاكَ لأَغْسِلَهُ، فَأَبْدَأُ بِهِ فَأَسْتاَكُ ثُمَّ أَغْسِلُهُ، ثُمَّ أَدْفَعُهُ إِلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersiwak, lalu memberiku siwak tersebut untuk kucuci. Lalu aku menggunakannya untuk bersiwak, kemudian mencucinya, setelahnya menyerahkannya kepada beliau8.” (HR. Abu Dawud no. 52). (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fashl Al-Istiyak ‘alal Asnan wal Lisan)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Ulama berbeda pendapat, apakah bersiwak dilakukan dengan tangan kanan atau tangan kiri. Sebagian mereka mengatakan: dengan tangan kanan, karena siwak itu sunnah. Sementara sunnah merupakan ketaatan dan amalan qurbah (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan demikian bersiwak tidak dilakukan dengan tangan kiri, karena tangan kiri itu digunakan untuk menghilangkan kotoran, berdasarkan kaidah bahwa tangan kiri digunakan untuk kotoran sedangkan tangan kanan untuk yang selainnya. Apabila siwak ini dianggap ibadah maka asalnya dilakukan dengan tangan kanan.&lt;br /&gt;Ulama yang lain mengatakan: ‘Bersiwak menggunakan tangan kiri lebih utama.’ Ini pendapat yang masyhur dalam madzhab ini (Hanabilah). Karena siwak itu untuk menghilangkan kotoran, sedangkan menghilangkan kotoran dilakukan dengan tangan kiri seperti halnya istinja` (cebok) dan istijmar (bersuci dengan menggunakan batu).&lt;br /&gt;Sebagian Malikiyyah berkata: “Dalam hal ini dirinci. Bila ia bersiwak untuk mensucikan mulut sebagaimana bila ia bangun dari tidurnya atau menghilangkan makanan yang tersisa maka dia bersiwak dengan tangan kiri, karena berkaitan dengan menghilangkan kotoran. Bila ia bersiwak untuk memperoleh amalan sunnah maka dilakukan dengan tangan kanan, karena ia bersiwak dengan tujuan untuk melakukan qurbah (mendekatkan diri pada Allah), sebagaimana bila ia baru saja berwudhu dan ia bersiwak ketika wudhu, kemudian ia hendak mengerjakan shalat. Maka ia bersiwak untuk memperoleh pahala amalan sunnah.&lt;br /&gt;(Namun yang benar, pent.) perkaranya lapang dan tidak dibatasi, karena tidak adanya nash yang jelas yang menetapkannya.” (Asy-Syarhul Mumti’, 1/105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh Bersiwak saat Berpuasa&lt;br /&gt;Dalam hal ini ada hadits dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لاَ أُحْصِي يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa kali yang tidak bisa aku hitung, beliau bersiwak dalam keadaan beliau puasa.”&lt;br /&gt;Namun hadits yang diriwayatkan oleh Ar-Tirmidzi, Abu Dawud dan lain-lainnya ini dha’if/lemah, karena adanya perawi yang lemah sebagaimana dijelaskan dalam Irwa`ul Ghalil (hadits no. 68). Karena dha’if, berarti hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai sandaran/hujjah.&lt;br /&gt;Sehingga permasalahan bolehnya bersiwak ketika sedang puasa, kembali kepada dalil-dalil yang umum. Seperti hadits yang berisi anjuran untuk bersiwak ketika hendak shalat dan saat berwudhu.&lt;br /&gt;Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu menyatakan: “Al-Imam Asy-Syafi’i berpandangan bahwa tidak mengapa bagi orang yang berpuasa untuk bersiwak pada awal dan akhir siang. Sementara Al-Imam Ahmad dan Ishaq memakruhkannya bila dilakukan di akhir siang.” (Sunan At-Tirmidzi, kitab Ash-Shaum, bab Ma Ja’a fis Siwak lish-Sha`im)&lt;br /&gt;Di antara yang berpendapat disunnahkannya bersiwak secara mutlak, saat puasa ataupun tidak, adalah Abu Hanifah dan Malik. Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah. Dan pendapat ini yang penulis rajihkan. Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Yang benar adalah disunnahkan siwak bagi orang yang puasa, baik di awal siang ataupun di akhirnya. Ini merupakan madzhab jumhur.” (Nailul Authar, 1/159)&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;1 Isyarat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu bersama orang-orang yang Allah berikan kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itu adalah sebaik-baik teman.” (An-Nisa`: 69)&lt;br /&gt;2 Hadits di atas menunjukkan beberapa hal:&lt;br /&gt;- Disenanginya menggunakan siwak yang basah&lt;br /&gt;- Sebelum digunakan sebaiknya siwak diperbaiki/dibaguskan terlebih dahulu&lt;br /&gt;- Boleh menggunakan siwak milik orang lain setelah dibersihkan&lt;br /&gt;- Boleh bersiwak di hadapan orang lain, yakni bersiwak bukan perkara yang harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Seorang pemimpin/tokoh tidaklah tercela bila melakukannya di hadapan orang yang dipimpinnya/bawahannya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang rasul/imam dan pimpinan umat melakukannya di hadapan ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma (Ihkamul Ahkam, kitab Thaharah, bab As-Siwak, Fathul Bari 1/464 )&lt;br /&gt;3 Yakni mengeluarkan suara seperti orang yang hendak muntah, karena bersungguh-sungguhnya beliau bersiwak. (Fathul Bari, 1/463)&lt;br /&gt;4 Haditsnya diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, namun tanpa penyebutan bersiwak, tambahan ini ada dalam riwayat Abu Dawud, no. 4140&lt;br /&gt;5 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih, 1/348&lt;br /&gt;6 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir, 2/4912&lt;br /&gt;7Yaitu hadits yang menyatakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi mendahulukan yang kanan ketika menyisir rambutnya, mengenakan sandal, bersucinya, dan bersiwaknya.&lt;br /&gt;8 Dalam ‘Aunul Ma‘bud Syarah Abi Dawud disebutkan: “Setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan siwak untuk membersihkan mulutnya, beliau menyerahkan kepada ‘Aisyah untuk dihilangkan kotoran yang mungkin menempel pada siwak tersebut agar tabiat itu tidak merasa jijik untuk menggunakannya pada kali yang lain. ‘Aisyah pun menyatakan: “Aku mencucinya”, yakni mencuci siwak tersebut untuk mengharumkan dan membersihkannya. “Aku menggunakannya”, kata ‘Aisyah, yakni memakai siwak tersebut pada mulutku sebelum dicuci agar mendapatkan barakah mulut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam”. (Kitab Ath-Thaharah, bab Ghaslus Siwak)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-5949312741394870136?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://sunnisalafi.blogspot.com' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/5949312741394870136/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=5949312741394870136' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/5949312741394870136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/5949312741394870136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/keutamaan-bersiwak.html' title='Keutamaan Bersiwak'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5saKtLBBBI/AAAAAAAAAHs/Ssn5s3uyLew/s72-c/Siwak1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-6934951675760778009</id><published>2008-01-25T23:31:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:51.921+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Hijamah'/><title type='text'>PANDUAN SINGKAT TENTANG BEKAM    [CUPPING]</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5pIl9LBA-I/AAAAAAAAAHU/eUAeE8QoJFk/s1600-h/dry-cupping-asthma.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5pIl9LBA-I/AAAAAAAAAHU/eUAeE8QoJFk/s320/dry-cupping-asthma.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159516140019450850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran Berbekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Salam besabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الشِّفَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَإِنِّيْ أَنْهَى أُمَّتِيْ عَنْ الْكَيِّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan sundutan dengan api (kay). Sesungguhnya aku melarang ummatku (berobat) dengan kay.” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Salam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (venesection).” (HR Bukhari – Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-Macam Bekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekam Basah (Wet Cupping)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu metode pengeluaran darah kotor (blood letting) dengan cara disayat dengan silet, lanset, pisau bedah atau jarum steril pada bagian yang dibekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Melakukan Bekam Basah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih titik bekam berdasarkan kondisi pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih gelas bekam (cup) berdasarkan tingkat penyakit pasien dan postur tubuh. Semakin besar gelas yang digunakan maka tingkat rasa sakit akan semakin besar, namun efeknya akan semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersihkan bagian kulit yang akan dibekam dengan desinfektans/alkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pompa gelas bekam dengan piston pada posisi yang dikehendaki sebanyak 2-3 kali tarikan, atau sampai piston tidak dapat ditarik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan selama 3-5 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas gelas bekam dan sayat bagian bekas bekam dengan silet, lanset, pisau bedah atau jarum steril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekam lagi posisi yang disayat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu selama lebih kurang 3 menit sampai darah keluar dan menumpuk pada gelas bekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas gelas bekam dan buang darah kotor yang keluar, bersihkan kembali gelas bekam dan desinfeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekam lagi sebanyak 3-5 kali, atau sampai keluar cairan putih dari kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oles bekas sayatan dan bekam dengan minyak habbatus sauda’ (jinten hitam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan setiap bulan atau setiap 2 minggu bagi yang penyakitnya parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekam Kering (Dry Cupping)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu metode bekam yang tidak mengeluarkan darah dari tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Melakukan Bekam Kering :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih titik bekam berdasarkan kondisi pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih gelas bekam (cup) berdasarkan tingkat penyakit pasien dan postur tubuh. Semakin besar gelas yang digunakan maka tingkat rasa sakit akan semakin besar, namun efeknya akan semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pijat bagian yang akan dibekam dengan dilumuri minyak zaitun atau minyak jinten hitam selama lebih kurang 5 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pompa gelas bekam dengan piston pada posisi yang dikehendaki sebanyak 2-3 kali tarikan, atau sampai piston tidak dapat ditarik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan selama 10 menit (bagi pria), 7 menit (bagi wanita) atau 3 menit (bagi anak-anak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas gelas bekam dan pijat kembali dengan minyak zaitun atau minyak jinten hitam selama 2-3 menit untuk menghilangkan bercak-bercak hitam atau blister.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan selama 7 hari bagi orang dewasa dan 5 hari bagi anak-anak, kemudian diselingi masa interval selama 3 hari, lalu dilanjutkan lagi pembekaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekam Seluncur (Sliding Cupping)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu metode bekam yang mana gelas bekam diseluncurkan di atas permukaan kulit yang rata (tidak tebal ototnya). Metode ini serupa dengan Guasha (cina), scrapping (inggris) atau kerokan (jawa), namun lebih aman karena tidak merusak pori-pori sebagaimana kerokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Melakukan Bekam Seluncur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih titik bekam sebagai awalan seluncur, biasanya bagian atas pundak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih gelas bekam (cup) berdasarkan tingkat penyakit pasien dan postur tubuh. Semakin besar gelas yang digunakan maka tingkat rasa sakit akan semakin besar, namun efeknya akan semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pijat bagian yang akan dibekam dengan dilumuri minyak zaitun atau minyak jinten hitam selama lebih kurang 5 menit. Oleskan minyak agak banyak sebagai pelumas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pompa gelas bekam dengan piston pada posisi yang dikehendaki sebanyak 2-3 kali tarikan kemudian gerakkan/seluncurkan perlahan-lahan sampai tampak bruise (memar) kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas gelas bekam dan pijat kembali dengan minyak zaitun atau minyak jinten hitam selama 2-3 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekam Cepat (Flash Cupping) atau Bekam Tarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu metode bekam dengan cara tarik lepas – tarik lepas secara cepat pada bagian kulit yang sukar dibekam, atau apabila dibekam gelas cenderung jatuh. Area ini biasanya di sekitar wajah dan dahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Melakukan Bekam Cepat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih titik bekam pada dahi atau bagian yang nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih gelas bekam (cup) yang proporsional dengan lebar dahi (tidak terlalu besar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pompa gelas bekam dengan piston pada posisi yang dikehendaki secukupnya kemudian lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan hal ini secara berulang-ulang sampai kulit berwarna kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosis Penyakit Dengan Bekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa bekam/cupping dapat dilihat dari warna pigmen kulit setelah pembekaman. Di dalam buku “Canon of Internal Medicine” dikatakan, “Kondisi organ internal (organ dalam) dapat diketahui dengan cara mengobservasi (mengamati) gejala-gejala eksternal dan tanda-tanda fisik, sehingga penyakitnya dapat didiagnosa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi pigmen pada kulit bekas bekam adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas bekam yang muncul berwarna ungu kegelapan atau hitam, pada umumnya hal ini mengindikasikan kondisi defisiensi (kekurangan) pasokan/suplai darah dan channel/saluran (pembuluh) darah yang tidak lancar yang disertai dengan keberadaan darah statis (darah beku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas bekam yang muncul berwarna ungu disertai plaque (bercak-bercak), pada umumnya hal ini menandakan terjadinya gangguan/ kelainan gumpalan darah yang berwarna keunguan dan adanya darah statis (darah beku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas bekam yang muncul berbentuk bintik-bintik ungu yang tersebar dengan tingkatan warna yang berbeda (ada yang tua dan ada yang ungu muda). Hal ini menandakan kelainan “Qi” dan darah statis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas bekam yang muncul berwarna merah cerah, biasanya hal ini menunjukkan terjadinya defisiensi “Yin”, defisiensi “Qi” dan darah atau rasa panas yang dahsyat yang diinduksi oleh defisiensi “Yin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas bekam yang muncul berwerna merah gelap, hal ini mengindikasikan kondisi lemak di dalam darah yang tinggi disertai dengan adanya panas patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas bekam yang muncul berwarna agak pucat/putih dan tidak hangat ketika disentuh, hal ini mengindikasikan terjadinya defisiensi cold (dingin) dan adanya gas patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya garis-garis pecah/ruam pada permukaan bekas bekam dan rasa sedikit gatal, hal ini mengindikasikan kondisi adanya wind (lembab) patogen dan gangguan gas patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya uap air pada dinding bagian dalam gelas bekam, menandakan kondisi adanya gas-gas patogen pada daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya blister (lepuhan/lecat) pada bekas bekam, menggambarkan kondisi gangguan gas yang parah pada tubuh. Adanya darah tipis pada blister merupakan reaksi gas panas toksin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam bekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastikan bahwa gelas bekam sudah steril dan higinis sehingga aman untuk bekam (terutama bekam basah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pasien yang belum pernah dibekam sebelumnya, pilihlah gelas bekam dari yang terkecil lalu ke yang besar supaya tidak terlalu sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi bekam dapat dilakukan dengan duduk atau berbaring menelungkup. Posisi duduk lebih baik untuk peredaran darah, namun bagi pasien yang lemah dianjurkan dengan posisi berbaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pasien yang baru dibekam, sering-seringlah menanyai bagaimana keadaannya, apakah merasa mulas, pusing, mual atau adanya tanda-tanda akan pingsan lainnya. Segera hentikan bekam apabila pasien mengeluh kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bekam dihadapkan beristirahat yang cukup. Sebagian pasien segera merasa segar badannya setelah berbekam pada bagian punggung dan lutut, sehingga ia tidak mau beristirahat sebagaimana mestinya, hal ini dapat menyebabkan kembalinya penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang merasakan suhu badannya naik setelah 1-2 hari setelah berbekam, hal ini adalah normal dan akan segera hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien yang menderita sakit menular atau infeksius agar diberikan perhatian khusus. Bagi penderita penyakit infeksius, diharap gelas bekamnya adalah tersendiri (single use) dan juru bekam dianjurkan menggunakan pelindung tubuh seperti sarung tangan karet (gloves), masker dan semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien yang menderita tekanan darah rendah harus diperlakukan ekstra dan hati-hati. Tingkat kesadarannya selalu dimonitor agar tidak pingsan. Dihindarkan membekam pada areal punggung bawah yang sejajar dengan pusar ke bawah, karena hal ini bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permukaan kulit yang timbul blister kecil, bercak-bercak, noda darah dan darah stasis adalah reaksi normal setelah bekam. Apabila blister yang timbul banyak dan besar-besar (seperti luka bakar), maka dapat dipecah dengan cara menusukkan jarum steril kering hingga keluar cairannya (cairan limfoid) lalu didesinfeksi dengan desinfektans. Lebih dianjurkan apabila bekas bekam yang berblister ini dipijat lembut dengan minyak zaitun atau jinten hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien yang mengalami mental stres, ketakutan, mual dan gejala mental lainnya, dihentikan pembekaman dan pasien disuruh berbaring relaks, tenang dan diberi minum dengan minuman manis (lebih baik madu) kemudian dimotivasi dan disugesti untuk menghilangkan atau meminimalisir gangguan mentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan-Larangan Bekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dianjurkan melakukan bekam basah pada penderita diabetes kecuali juru bekam yang ahli dan berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam orang yang fisiknya sangat lemah atau orang yang kelelahan (overfatigue).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam orang yang menderita penyakit kulit merata atau menderita alergi kulit yang parah seperti ulserasi dan edema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam orang yang sudah jompo yang lemah fisiknya dan anak-anak yang tubuhnya lemah atau di bawah 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderita leukimia (kanker darah) tidak dianjurkan untuk dibekam basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderita hepatitis yang parah, TBC aktif, hemofilia, malignant anemia, trombositopenia dan penyakit lainnya yang parah tidak dianjurkan dibekam kecuali kepada juru bekam yang ahli dan berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan memberkam pada kondisi : perut kekenyangan, kehausan, kelaparan, kelelahan, setelah beraktivitas berat, tubuh lemah dan tubuh demam (kedinginan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam wanita hamil pada usia kehamilan 3 bulan pertama (trimester awal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam langsung pada daerah yang luka, urat sendi robek, patah tulang, varises, tumor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam wanita yang sedang haidh dan nifas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan memberkam daerah perut terlalu keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam pasien yang mengkonsumsi obat pelancar dan pengencer darah semisal mengkudu, omega 3, dls.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan melakukan bekam langsung setelah makan, pembekaman dapat dilakukan minimal dua jam setelah makan. Setelah bekam juga jangan langsung makan, melainkan hanya minum yang manis-manis semisal madu atau selainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dianjurkan melakukan pembekaman kepada orang yang menderita klep jantung, kecuali di bawah pengawasan dokter atau ahli bekam yang berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan melakukan bekam langsung setelah mandi, terutama setelah mandi dengan air dingin. Tidak dianjurkan langsung mandi setelah bekam, melainkan setelah 2 jam. Dianjurkan mandi dengan air hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam basah orang yang baru memberikan donor darah atau orang yang baru kecelakaan sehingga darahnya berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam pasien diabetes (gula darah di atas 280) kecuali oleh orang yang ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membekam di area terbuka atau tempat yang dingin. Lebih baik melakukan bekam di ruang yang hangat atau bersuhu normal ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilarang membekam area berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubang alamiah tubuh : mata, hidung, telinga, mulut, kemaluan, anus, puting susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah sistem nodus limfa yang berfungsi sebagai penghasil antibodi, yaitu di submaksilari, korvikal, sudmalaonkular, aksilari, bagian detak jantung, nodus inguinalglimfa (lihat buku panduan biru hal. 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah yang dekat dengan pembuluh besar (big vessels).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-6934951675760778009?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/6934951675760778009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=6934951675760778009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/6934951675760778009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/6934951675760778009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/panduan-singkat-tentang-bekam-cupping.html' title='PANDUAN SINGKAT TENTANG BEKAM    [CUPPING]'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5pIl9LBA-I/AAAAAAAAAHU/eUAeE8QoJFk/s72-c/dry-cupping-asthma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-160077675683537194</id><published>2008-01-21T15:49:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:52.033+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir'/><title type='text'>AL QUR'AN, OBAT SEGALA PENYAKIT</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5SdHfde36I/AAAAAAAAAGc/CwFRqJKs_B8/s1600-h/QURAN.gif"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5SdHfde36I/AAAAAAAAAGc/CwFRqJKs_B8/s400/QURAN.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157920225275862946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;نُنَزِّلُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami turunkan.” Jumhur ahli qiraah membacanya dengan diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membacanya dengan tanpa tasydid (نُنْزِلُ). Sedangkan Mujahid membacanya dengan diawali huruf ya` dan tanpa tasydid (يُنْزِلُ). Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs. (Tafsir Al-Qurthubi, 10/315 dan Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 3/253)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِنَ الْقُرْآنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dari Al-Qur`an.” Kata min (مِنْ) dalam ayat ini, menurut pendapat yang rajih (kuat), menjelaskan jenis dan spesifikasi yang dimiliki Al-Qur`an. Kata min di sini tidak bermakna “sebagian”, yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur`an ada yang tidak termasuk syifa` (penawar), sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu. Kata min pada ayat ini seperti halnya yang terdapat dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi...” (An-Nur: 55)&lt;br /&gt;Kata min dalam lafadz مِنْكُمْ tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 10/316, Fathul Qadir, 3/253, dan At-Thibb An-Nabawi, Ibnul Qayyim, hal. 138)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;شِفَاء&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ٌ&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;“Penyembuh.” Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Penjelasan Tafsir Ayat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu Al-Qur`an, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Al-Qur`an itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Al-Qur`an-lah yang menyembuhkan itu semua. Di samping itu, ia merupakan rahmat yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Al-Qur`an akan menjadi penyembuh dan rahmat.&lt;br /&gt;Adapun orang kafir yang mendzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Al-Qur`an tidaklah bertambah baginya melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu, bukan pada Al-Qur`annya. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيْدٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh’.” (Fushshilat: 44)&lt;br /&gt;Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيْمَانًا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ. وَأَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 124-125)&lt;br /&gt;Dan masih banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/60)&lt;br /&gt;Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata pula dalam menjelaskan ayat ini:&lt;br /&gt;“Al-Qur`an mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya bagi kaum mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang-orang dzalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat-ayat tersebut tidaklah menambah baginya kecuali kerugian. Karena, hujjah telah ditegakkan kepadanya dengan ayat-ayat itu.&lt;br /&gt;Penyembuhan yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum meliputi penyembuhan hati dari berbagai syubhat, kejahilan, berbagai pemikiran yang merusak, penyimpangan yang jahat, dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia (Al-Qur`an) mengandung ilmu yakin, yang dengannya akan musnah setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasehat serta peringatan, yang dengannya akan musnah setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di samping itu, Al-Qur`an juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit.&lt;br /&gt;Adapun rahmat, maka sesungguhnya di dalamnya terkandung sebab-sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu, maka dia akan menang dengan meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan, cepat ataupun lambat.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 465)&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur`an Menyembuhkan Penyakit Jasmani&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap muslim bahwa Al-Qur`anul Karim diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dirahmati-Nya. Namun apakah Al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit jasmani?&lt;br /&gt;Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati; Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” (Fathul Qadir, 3/253)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Zadul Ma’ad:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;“Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;(Zadul Ma’ad, 4/287)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Al-Qur`an.&lt;br /&gt;Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadits ‘Aisyah radhiallahu 'anha.Beliau radhiallahu 'anha berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terkena sihir&lt;span&gt;[1]&lt;/span&gt;, sehingga beliau menyangka bahwa beliau mendatangi istrinya padahal tidak mendatanginya.&lt;br /&gt;Lalu beliau berkata: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku. Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang satunya: ‘Kenapa beliau?’&lt;br /&gt;Dijawab: ‘Terkena sihir.’&lt;br /&gt;Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’&lt;br /&gt;Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi, ia seorang munafiq.’&lt;br /&gt;(Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’&lt;br /&gt;Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’&lt;br /&gt;(Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’&lt;br /&gt;Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.”&lt;br /&gt;'Aisyah radhiallahu 'anha lalu berkata: “Nabi lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau mengeluarkannya. Beliau lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma jantan tersebut, pen.)?’ Beliau menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.”&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab At-Thib, bab Hal Yustakhrajus Sihr? jilid 10, no. 5765, bersama Al-Fath). Juga dalam Shahih-nya (kitab Al-Adab, bab Innallaha Ya`muru Bil ‘Adl, jilid 10, no. 6063). Juga diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Asy-Syafi’i (2/289, dari Syifa`ul ‘Iy), Al-Asfahani dalam Dala`ilun Nubuwwah (170/210), dan Al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272). Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (firman Allah Subhanahu wa Ta'ala):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga selesai bacaan surah tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula yang diriwayatkan Al-Imam Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu, beliau berkata:&lt;br /&gt;“Sekelompok2 shahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking). Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikitpun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para shahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’&lt;br /&gt;Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu? Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’&lt;br /&gt;Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing&lt;span&gt;&lt;span&gt;[&lt;/span&gt;&lt;span&gt;3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Maka dia (salah seorang shahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.&lt;br /&gt;Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata: ‘Bagilah.’ Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.’&lt;br /&gt;Merekapun menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian melaporkan hal tersebut. Maka beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (Al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’ Lalu beliau berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tertawa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَيْرُ الدَّوَاءِ الْقُرْآنُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik obat adalah Al-Qur`an.”&lt;br /&gt;Dan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْقُرْآنُ هُوَ الدَّوَاءُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al-Qur`an adalah obat.”&lt;br /&gt;Keduanya adalah hadits yang dha’if, telah dilemahkan oleh Al-Allamah Al-Albani rahimahullahu dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Membuka Klinik Ruqyah???&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di antara penyimpangan terkait dengan ruqyah adalah menjadikannya sebagai profesi, seperti halnya dokter atau bidan yang membuka praktek khusus. Ini merupakan amalan yang menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dalam meruqyah:&lt;br /&gt;“Pertama, dan yang paling besar (kesalahannya), adalah menjadikan bacaan (untuk penyembuhan) atau ruqyah sebagai sarana untuk mencari nafkah, di mana dia memfokuskan diri secara penuh untuk itu. Memang telah dimaklumi bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokuskan diri untuk itu, bukanlah bagian dari petunjuk para shahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yang sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para shahabat dan tabi’in.&lt;br /&gt;(Menjadikan meruqyah sebagai profesi) baru muncul di masa-masa belakangan. Petunjuk Salaf dan bimbingan As-Sunnah dalam meruqyah adalah seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya, baik dengan upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikannya sebagai profesi seperti halnya dokter yang mengkhususkan dirinya (pada perkara ini). Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tidak terdapat (contohnya) pada zaman generasi pertama.&lt;br /&gt;Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yang kami saksikan pada orang-orang yang mengkhususkan diri (dalam meruqyah) telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yang mengkhususkan dirinya untuk meruqyah, niscaya engkau mendapatinya memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dia tunaikan dan yang harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk. Barangsiapa meruqyah melalui kaset-kaset, suara-suara, di mana dia membaca di sebuah kamar, sementara speaker berada di kamar yang lain, dan yang semisalnya, merupakan hal yang menyelisihi nash. Ini sepantasnya dicegah untuk menutup pintu (penyimpangan). Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yang mempopulerkan perkara-perkara yang terlarang atau yang tidak diperkenankan syariat. (Ar-Ruqa Wa Ahkamuha, Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh, hal. 20-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan orientalis dan ahli bid’ah mengingkari hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terkena sihir, dan berusaha menolaknya dengan berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah –walhamdulillah- para penolak hadits ini dalam sebuah kitab yang berjudul Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar-Rafidhi, Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadits. Silahkan merujuk kepada kitab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dalam riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dalam riwayat lain: 30 ekor kambing, sesuai jumlah mereka.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=360&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-160077675683537194?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/160077675683537194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=160077675683537194' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/160077675683537194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/160077675683537194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/al-quran-obat-segala-penyakit.html' title='AL QUR&apos;AN, OBAT SEGALA PENYAKIT'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5SdHfde36I/AAAAAAAAAGc/CwFRqJKs_B8/s72-c/QURAN.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-425710242011961765</id><published>2008-01-20T23:02:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:52.178+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herbal Plus'/><title type='text'>Lagi...tentang Madu, Si Manis yang Menyehatkan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5OtSPde32I/AAAAAAAAAF8/P-F5M3wLwC0/s1600-h/Honey.jpeg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5OtSPde32I/AAAAAAAAAF8/P-F5M3wLwC0/s400/Honey.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157656527168790370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;"Keluarlah dari perutnya (lebah) minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia."&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; (An-Nahl: 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madu memiliki keistimewaan dibandingkan zat pemanis lainnya. Salah satu keunggulan madu dibanding pemanis lain adalah dapat langsung dikonsumsi setelah diambil dari sarangnya tanpa melalui proses pengolahan terlebih dulu. Hal ini dimungkinkan karena kandungan gula sederhana yang terdapat di dalamnya, yaitu&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; glukosa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; dan&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;fruktosa&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;dengan kadar yang cukup tinggi. Berbeda dengan gula tebu yang harus diolah sebelum dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kandungan Madu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gula sederhana merupakan komponen utama dalam gula darah, sehingga madu dapat langsung diserap tubuh tanpa membutuhkan proses pemecahan.&lt;br /&gt;Total kalori yang dihasilkan madu tiap 100 gramnya adalah 294 kalori. Ini memang lebih kecil dibanding gula yang menghasilkan 364 kalori tiap gramnya. Namun hal ini bisa diabaikan jika melihat kandungan zat dan manfaat madu yang bersifat alami. Gula memerlukan proses pemecahan menjadi gula sederhana sebelum dimanfaatkan oleh tubuh. Jadi gula membutuhkan waktu dan tambahan energi dari tubuh sebelum diserap dan dimanfaatkan tubuh. Maka kita dapat menambahkan madu dalam pola makan sehari-hari sebagai ganti gula dan penyedia energi yang langsung dapat diserap oleh tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madu memiliki kandungan gizi tinggi antara lain zat gula (glukosa dan fruktosa), asam amino, dan vitamin. Kandungan mineral dalam madu antara lain: Kalium, Natrium, Calsium, Magnesium, Zat Besi, Phosphor, Mangan, dan Sulfur. Kandungan vitaminnya antara lain Thiamin, Riboflavin, Niasin, Asam Pantotenat, Piridoksin, dan Asam Askorbat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Manfaat madu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari kandungan asam folatnya, madu sangat baik dikonsumsi ibu hamil. Asam folat merupakan nutrien penting bagi pertumbuhan janin. Kekurangan asam folat pada masa awal kehamilan dapat menyebabkan bayi yang lahir beresiko besar mengalami cacat bawaan pembuluh syaraf.&lt;br /&gt;Madu yang diberikan kepada bayi yang telah makan dan minum selain ASI, dapat memacu pertumbuhan sel darah merah dan otaknya. Madu juga baik bagi pertumbuhan gigi bayi. Karena, madu mengandung Antibiotika yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk.&lt;br /&gt;Kandungan mineral dalam madu bermanfaat untuk menjaga kesehatan gigi yaitu sebagai anti bakteri yang ada di mulut, menjaga kekuatan enamel dan dentin. Madu bermanfaat juga untuk obat turun panas, mengurangi rasa mual, gangguan pencernaan, mencegah radang usus besar, sariawan, gatal-gatal, gigitan serangga, untuk mata bintiten dan untuk menjaga kesehatan mata.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Madu yang mengandung asam folat dapat menurunkan resiko kanker rahim dan penyakit jantung. Asam folat ini juga dibutuhkan dalam metabolisme lemak, metabolisme kolesterol, dan sistem kekebalan tubuh.&lt;br /&gt;Madu dapat dipergunakan sebagai obat penyakit hati (lever) dan hepatitis. Glukosa yang terkandung di dalamnya menghasilkan hidrat arang putih dalam hati manusia yang membantu kerja hati sebagai penyaring dan pelawan racun, bakteri dalam, serta menjaga daya tahan tubuh dari infeksi. Subhaanalloh!!!&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;http://asysyariah.com/print.php?id_online=204&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-425710242011961765?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/425710242011961765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=425710242011961765' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/425710242011961765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/425710242011961765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/lagitentang-madu-si-manis-yang.html' title='Lagi...tentang Madu, Si Manis yang Menyehatkan'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5OtSPde32I/AAAAAAAAAF8/P-F5M3wLwC0/s72-c/Honey.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-2273675788502896161</id><published>2008-01-20T22:40:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:52.388+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir'/><title type='text'>MENGURAI KEUTAMAAN DAN KANDUNGAN SURAT AN-NAAS</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5OmoPde31I/AAAAAAAAAF0/lXMQmvI-_uw/s1600-h/86516189_1f9c073387.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5OmoPde31I/AAAAAAAAAF0/lXMQmvI-_uw/s400/86516189_1f9c073387.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157649208544517970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Para pembaca yang mulia, semoga Allah subhanahu wata'ala mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua,&lt;br /&gt;Syaithan!!! siapa diantara kita yang tidak pernah mendengar kata ini. Sudah terlalu banyak orang yang terperosok dalam lembah kemaksiatan dan tenggelam dalam syhawat akibat ulahnya. Penebar “racun” di seluruh sendi-sendi kehidupan manusia. Menyeret manusia menjadi penghuni An Naar. Penampakannya yang kasat mata semakin membuat leluasa gerakannya. Allah subhanahu wata'ala berfirman (artinya):&lt;br /&gt;“Sesungguhnya syaithan dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al A’raaf: 27)&lt;br /&gt;Syaithan adalah sumber dari segala kejelekan yang ada, perancang dari segala makar, peramu segala racun, menghembuskan was-was ke dalam hati-hati manusia, mengemas perbuatan jelek sebagai perbuatan yang baik. Sehingga kebanyakan manusia terpedaya dengan makar dan racunnya.&lt;br /&gt;Namun kita tidak boleh gegabah dengan mengatakan ‘celaka kamu wahai syaithan’, justru syaithan semakin membesar seperti besarnya rumah. Tetapi bacalah basmalah (bismillah) niscaya syaithan semakin kecil seperti lalat. (HR. Abu Dawud no. 4330)&lt;br /&gt;Bukankah Allah subhanahu wata'ala telah memberikan penawar bagi “racun” yang ditimbulkan oleh syaithan tersebut. Allah subhanahu wata'ala berfirman (artinya):&lt;br /&gt;“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al Isra’: 82)&lt;br /&gt;Dan tidaklah Allah subhanahu wata'ala menurunkan suatu penyakit kecuali Allah subhanahu wata'ala telah menyediakan penawarnya. Salah satu dari penawar tersebut adalah surat An Naas, salah satu surat yang terdapat di dalam Al Quran dan terletak di penghujung atau bagian akhir darinya serta termasuk surat-surat pendek yang ada di dalam Al Quran.&lt;br /&gt;Pada kajian kali ini, kami akan mengajak pembaca untuk mengkaji tentang keutamaan surat An Naas dan apa yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan surat An Naas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Surat ini termasuk golongan surat Makkiyah (turun sebelum hijrah) menurut pendapat para ulama di bidang tafsir, diantaranya Ibnu Katsir Asy Syafi’i dan Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’dy.&lt;br /&gt;Surat An Naas merupakan salah satu Al Mu’awwidzataini. Yaitu dua surat yang mengandung permohonan perlindungan, yang satunya adalah surat Al Falaq. Kedua surat ini memiliki kedudukan yang tinggi diantara surat-surat yang lainnya. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُنْزِلَ أَوْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَاتٌ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ الْمُعَوِّذَتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah diturunkan kepadaku ayat-ayat yang tidak semisal dengannya yaitu Al Mu’awwidataini (surat An Naas dan surat Al Falaq).” (H.R Muslim no. 814, At Tirmidzi no. 2827, An Naasa’i no. 944)&lt;br /&gt;Setelah turunnya dua surat ini, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mencukupkan keduanya sebagai bacaan (wirid) untuk membentengi dari pandangan jelek jin maupun manusia. (HR. At Tirmidzi no. 1984, dari shahabat Abu Sa’id radhiallahu 'anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila disebut Al Mu’awwidzat, maka yang dimaksud adalah dua surat ini dan surat Al Ikhlash. Al Mu’awwidzat, salah satu bacaan wirid/dzikir yang disunnahkan untuk dibaca sehabis shalat. Shahabat ‘Uqbah bin ‘Amir membawakan hadits dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau shalallahu 'alaihi wasallam berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اقْرَأُوا الْمُعَوِّذَاتِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah Al Mu’awwidzat pada setiap sehabis shalat.” (HR. Abu Dawud no. 1523, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1514)&lt;br /&gt;Al Mu’awwidzat juga dijadikan wirid/dzikir di waktu pagi dan sore. Barangsiapa yang membacanya sebanyak tiga kali diwaktu pagi dan sore, niscaya Allah subhanahu wata'ala akan mencukupinya dari segala sesuatu. (HR. Abu Dawud no. 4419, An Naasaa’i no. 5333, dan At Tirmidzi no. 3399)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula disunnahkan membaca Al Mu’awwidztat sebelum tidur. Caranya, membaca ketiga surat ini lalu meniupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian diusapkan ke kepala, wajah dan seterusnya ke seluruh anggota badan, sebanyak tiga kali. (HR. Al Bukhari 4630&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Muawwidzat juga bisa dijadikan bacaan ‘ruqyah’ (pengobatan ala islami dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an). Dipenghujung kehidupan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, beliau dalam keadaan sakit. Beliau meruqyah dirinya dengan membaca Al Muawwidzat, ketika sakitnya semakin parah, maka Aisyah yang membacakan ruqyah dengan Al Muawwidzat tersebut. (HR. Al Bukhari no. 4085 dan Muslim no. 2195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir Surat An Naas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Aku berlindung kepada Rabb manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَلِكِ النَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raja manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلَهِ النَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembahan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tarbiyah ilahi, Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya sekaligus Khalil-Nya untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah Rabb (yaitu sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi rizki), Al Malik (pemilik dari segala sesuatu yang ada di alam ini), dan Al Ilah (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi). Dengan ketiga sifat Allah subhanahu wata'ala inilah, Allah subhanahu wata'ala memerintahkan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya, dari kejelekan was-was yang dihembuskan syaithan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pendidikan Rabbani, bahwa semua yang makhluk Allah subhanahu wata'ala adalah hamba yang lemah, butuh akan pertolongan-Nya subhanahu wata'ala. Termasuk Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, beliau adalah manusia biasa yang butuh akan pertolongan-Nya. Sehingga beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, bukan tempat untuk meminta pertolongan dan perlindungan, dan bukan tempat bergantung.&lt;br /&gt;Karena hal itu termasuk perbuatan ghuluw (ekstrim), memposisikan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bukan pada tempat yang semestinya. Bahkan beliau shalallahu 'alaihi wasallam melarang dari perbuatan seperti itu. Beliau shalallahu 'alaihi wasallam bersada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ ، فَقُوْلُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kalian berbuat ghuluw kepadaku sebagaimana Nashara telah berbuat ghuluw kepada Ibnu Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya”. (Muttafaqun ‘Alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi beliau shalallahu 'alaihi wasallam adalah seorang nabi dan rasul yang wajib ditaati dan diteladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi.”&lt;br /&gt;Makna Al was-was adalah bisikan yang betul-betul tersembunyi dan samar, adapun al khannas adalah mundur. Maka bagaimana maksud dari ayat ini?&lt;br /&gt;Maksudnya, bahwasanya syaithan selalu menghembuskan bisikan-bisikan yang menyesatkan manusia disaat manusia lalai dari berdzikir kepada Allah subhanahu wata'ala. Sebagaimana firman-Nya (artinya):&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az Zukhruf: 36)&lt;br /&gt;Adapun ketika seorang hamba berdzikir kepada Allah subhanahu wata'ala, maka syaithan bersifat khannas yaitu ‘mundur’ dari perbuatan menyesatkan manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):&lt;br /&gt;“Sesungguhnya syaitan itu tidak mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya.” (An Nahl: 99)&lt;br /&gt;Jawaban ini dikuatkan oleh Al Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya ketika membawakan penafsiran dari Sa’id bin Jubair dan Ibnu ‘Abbas, yaitu: “Syaithan bercokol di dalam hati manusia, apabila dia lalai atau lupa maka syaithan menghembuskan was-was padanya, dan ketika dia mengingat Allah subhanahu wata'ala maka syaithan lari darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.”&lt;br /&gt;Inilah misi syaithan yang selalu berupaya menghembuskan was-was kepada manusia. Menghiasi kebatilan sedemikian indah dan menarik. Mengemas kebenaran dengan kemasan yang buruk. Sehingga seakan-akan yang batil itu tampak benar dan yang benar itu tampak batil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah perhatikan, bagaimana rayuan manis syaithan yang dihembuskan kepada Nabi Adam dan istrinya. Allah subhanahu wata'ala kisahkan dalam firman-Nya (artinya):&lt;br /&gt;“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan syaitan berkata: "Rabb-mu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam al jannah/surga)". (Al A’raf: 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula perhatikan, kisah ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sedang beri’tikaf. Shafiyyah bintu Huyay (salah seorang istri beliau shalallahu 'alaihi wasallam) mengunjunginya di malam hari. Setelah berbincang beberapa saat, maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengantarkannya pulang ke kediamannya. Namun perjalanan keduanya dilihat oleh dua orang Al Anshar. Kemudian syaithan menghembuskan ke dalam hati keduanya perasaan was-was (curiga). Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melihat gelagat yang kurang baik dari keduanya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam segera mengejarnya, seraya bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَلَى رِسْلِكُمَا, إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيّ فَقَالاَ: سُبْحَانَ الله يَارَسُولَ الله. فَقَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدََّم, وَإِنِّي خَشِيْتُ أَنْ يُقْذَفَ فِي قُلُوبِكُمَاشَيْئاً, أَوْشَرًّا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenanglah kalian berdua, dia adalah Shafiyyah bintu Huyay. Mereka berdua berkata: “Maha Suci Allah wahai Rasulullah. Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya syaithan mengalir di tubuh bani Adam sesuai dengan aliran darah, dan aku khawatir dihembuskan kepada kalian sesuatu atau keburukan.” (H.R Muslim no. 2175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah watak syaithan selalu menghembuskan bisikan-bisikan jahat ke dalam hati manusia. Apalagi Allah subhanahu wata'ala dengan segala hikmah-Nya telah menciptakan ‘pendamping’ (dari kalangan jin) bagi setiap manusia, bahkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga ada pendampingnya. Sebagimana sabdanya shalallahu 'alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاّ َقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِيْنُهُ مِنَ الجِنِّ, قَالُوا: وَإِيَّاكَ يَارَسُولَ الله ؟ قَالَ: وَإِيَّايَ, إِلاَّ أَنَّ الله أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ, فَلاَ يَأْمُرُنِي إِلاَّبِخَيْرٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah salah seorang dari kalian kecuali diberikan seorang pendamping dari kalangan jin, maka para shahabat berkata: Apakah termasuk engkau wahai Rasulullah? Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab: Ya, hanya saja Allah telah menolongku darinya, karena ia telah masuk Islam, maka dia tidaklah memerintahkan kepadaku kecuali kebaikan”. (HR. Muslim no. 2814)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari (golongan) jin dan manusia.”&lt;br /&gt;Dari ayat ini tampak jelas bahwa yang melakukan bisikan ke dalam dada manusia tidak hanya dari golongan jin, bahkan manusia pun bisa berperan sebagai syaithan. Hal ini juga dipertegas dalam ayat lain (artinya):&lt;br /&gt;“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (Al An’am: 112)&lt;br /&gt;Maka salah satu jalan keluar dari bisikan dan godaan syaithan baik dari kalangan jin dan manusia adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala (artinya): “Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” (Fushshilat: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah sepantasnya bagi kita selalu memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah subhanahu wata'ala semata. Mengakui bahwa sesungguhnya seluruh makhluk berada di bawah pengaturan dan kekuasaan-Nya subhanahu wata'ala. Semua kejadian ini terjadi atas kehendak-Nya subhanahu wata'ala. Dan tiada yang bisa memberikan pertolongan dan menolak mudharat kecuali atas kehendak-Nya subhanahu wata'ala pula.&lt;br /&gt;Semoga Allah subhanahu wata'ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa meminta pertolongan, perlindungan dan mengikhlaskan seluruh peribadahan hanya kepada-Nya.&lt;br /&gt;(Buletin Al-Ilmu-Jember&gt; www.assalafy.org)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-2273675788502896161?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/2273675788502896161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=2273675788502896161' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/2273675788502896161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/2273675788502896161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/mengurai-keutamaan-dan-kandungan-surat.html' title='MENGURAI KEUTAMAAN DAN KANDUNGAN SURAT AN-NAAS'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5OmoPde31I/AAAAAAAAAF0/lXMQmvI-_uw/s72-c/86516189_1f9c073387.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-6626010732236862581</id><published>2008-01-19T20:05:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:52.962+03:00</updated><title type='text'>Alhamdulillah.... ada pepaya Thailand</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5IwSfde3yI/AAAAAAAAAFc/ZXqif0-RNZM/s1600-h/daun-pepaya-thailand.thumbnail.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5IwSfde3yI/AAAAAAAAAFc/ZXqif0-RNZM/s200/daun-pepaya-thailand.thumbnail.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157237617533574946" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5Iy3_de3zI/AAAAAAAAAFk/jE_X6lcHrew/s200/pepaya_th.thumbnail.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157240460801924914" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan pepaya Thailand ini, apabila ada sedikit saja geratan kuning pada kulitnya, berarti menunjukan sudah matang. Daging buahnya-pun lebih padat dan lebih berwarna merah dibandingkan pepaya pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Sedikit informasi tentang pepaya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; (karena memang belum ahlinya di bidang hortikultura):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain untuk konsumsi buah segar, buah pepaya matang dapat diolah menjadi saus pepaya. Buah yang setengah matang biasanya dibuat manisan, sedangkan buah muda disayur. Daunnya yang masih muda serta bunganya dibuat urap (lalap masak) dan buntil. Tanaman yang masih berdaun 3-5 helai dan buah muda dapat diambil getahnya untuk papain. Namun, batangnya tidak dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Papain digunakan untuk penyamak kulit serta melunakkan daging dan bahan kosmetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah pepaya memiliki kadar serat yang tinggi. Itu sebabnya saat mengalami sulit buang air besar, pepaya adalah buah yang pas untuk dikonsumsi. Pepaya juga dapat menambah nafsu makanan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Nama-nama Pepaya :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;بابايا (Arab), Pepaya (Indonesia), Gedang (Sunda); Betik, Kates, Telo gantung (Jawa); Gandul (Di desaku, red).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;&lt;strong&gt;Bagian-bagian dari pohon pepaya :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;1. Biji&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;- Dapat mencegah dan membasmi cacing serta parasit lainnya. Biji pepaya ini dapat dipergunakan dalam keadaan basah maupun kering.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;2. Akar&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Untuk obat cacing, sebagai minuman penyegar, untuk mencegah resiko batu ginjal.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;3. Getah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Untuk obat luka bakar maupun gatal-gatal di kulit (sebagai obat luar), sebagai pelunak daging&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;4. Daun&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Sebagai pengontrol tekanan darah, untuk obat demam berdarah, obat nyeri perut saat haid&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;5. Buah mentah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Untuk memperlancar ASI, mengatasi sembelit, gangguan haid, maupun gangguan lambung&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;6. Buah masak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Untuk meningkatkan asupan serat yang membantu menjaga organ pencernaan sekaligus memperlancar BAB. Dapat dimakan langsung atau dibuat jus dengan dicampur buah lain serta ditambah madu atau gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Penyakit yang dapat diobati (biidznillah):&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Batu ginjal, Hipertensi, Malaria, Sakit keputihan, Kekurangan ASI, Reumatik, Malnutrisi, Gangguan saluran kencing, Haid berlebihan; Sakit Perut saat haid, Disentri, Diare, Jerawat, Ubanan. dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel bebas didapatkan dari berbagai sumber&lt;br /&gt;&lt;i&gt;http://elha.wordpress.com&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-6626010732236862581?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/6626010732236862581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=6626010732236862581' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/6626010732236862581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/6626010732236862581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/alhamdulillahkelebihan-pepaya-thailand.html' title='Alhamdulillah.... ada pepaya Thailand'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R5IwSfde3yI/AAAAAAAAAFc/ZXqif0-RNZM/s72-c/daun-pepaya-thailand.thumbnail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-72540854317409954</id><published>2008-01-17T21:05:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:53.338+03:00</updated><title type='text'>Mari Hidupkan Sunnah Al Hijamah!!!</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4-fs_de3wI/AAAAAAAAAFM/kjgOGsFd7WA/s1600-h/Darah+Hijamah1.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4-fs_de3wI/AAAAAAAAAFM/kjgOGsFd7WA/s200/Darah+Hijamah1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156515693660659458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4-e9vde3uI/AAAAAAAAAE8/mNYES8YRyYQ/s1600-h/Darah+Hijamah.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4-e9vde3uI/AAAAAAAAAE8/mNYES8YRyYQ/s200/Darah+Hijamah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156514881911840482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Penyakit yang diderita manusia pasti ada obatnya, seperti sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,&lt;strong&gt; "Tidaklah Alloh Azza wa Jalla menurunkan satu penyakit, melainkan Alloh pula menurunkan obat(nya)."&lt;/strong&gt; (HR Bukhori no 5678 dan Ibnu Majah no 3438 dan 3439).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,&lt;strong&gt; "Setiap penyakit itu pasti ada obatnya, oleh karena itu barangsiapa yang tepat dalam melakukan pengobatan suatu penyakit, maka dengan izin Alloh dia akan sembuh."&lt;/strong&gt; (HR Muslim no 2204).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk obat dan cara pengobatan yang Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ajarkan kepada umatnya adalah bekam (Al Hijamah). Bahkan bekam dikatakan sebagai sebaik-baik pengobatan, seperti yang disabdakan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt; "Jika pada obat yang kalian pergunakan itu terdapat suatu kebaikan, maka itulah Al Hijamah (bekam)."&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; (HR Abu Dawud no 3857 Dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Silsilah Al Ahaadiits Ash-Shahiihah no 760).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,&lt;strong&gt; "Sesungguhnya cara pengobatan paling ideal yang kalian pergunakan adalah al hijaamah (bekam)."&lt;/strong&gt;  (HR Bukhori 2280 dan Muslim 2214).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sungguh, Sunnah yang mulia ini sudah menjadi sunnah matrukah (sunnah yang ditinggalkan) oleh kaum muslimin sendiri dan banyak muslimin yang belum mengetahui kalau berbekam merupakan wasiat Malaikat kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ketika beliau di mi'rajkan ke langit. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt; "Tidaklah aku melewati satu kelompok Malaikat ketika aku dimi'rajkan ke langit- melainkan mereka mengatakan- "Wahai Muhammad, lakukanlah olehmu berbekam!"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(HR Ibnu Majah no3477, Dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Silsilah Al Ahaadiits Ash-Shahihah no 1053).&lt;br /&gt;Demikianlah keutamaan dari berbekam hingga para Malaikat langit pun mewasiatkan agar dikerjakan oleh beliau. Dan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam pun mengajarkaan dan menganjurkan kepada ummatnya.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;http://www.al-ilmu.com/obat/detail.php?id=8&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-72540854317409954?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/72540854317409954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=72540854317409954' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/72540854317409954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/72540854317409954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/mari-hidupkan-sunnah-al-hijamah.html' title='Mari Hidupkan Sunnah Al Hijamah!!!'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4-fs_de3wI/AAAAAAAAAFM/kjgOGsFd7WA/s72-c/Darah+Hijamah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-8206514335889545103</id><published>2008-01-15T14:23:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:53.507+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herbal Plus'/><title type='text'>Minyak Zaitun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4yajvde3tI/AAAAAAAAAE0/nEMuQIave-k/s1600-h/Minyak+Zaitun.jpeg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4yajvde3tI/AAAAAAAAAE0/nEMuQIave-k/s200/Minyak+Zaitun.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155665612258598610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konsumsilah minyak zaitun dan gunakan sebagai minyak rambut, karena minyak zaitun dibuat dari pohon yang penuh berkah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Fungsi minyak zaitun:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengurangi kolesterol berbahaya tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat.&lt;br /&gt;2. Mengurangi risiko penyumbatan (trombosis) dan penebalan (ateriosklerosis) pembuluh darah.&lt;br /&gt;3. Mengurangi pemakaian obat-obatan penurun tekanan darah tinggi.&lt;br /&gt;4.  Mengurangi serangan kanker.&lt;br /&gt;5. Melindungi dari serangan kanker payudara. Sesendok makan minyak zaitun setiap hari mengurangi risiko kanker payudara sampai pada kadar 45%.&lt;br /&gt;6. Menurunkan risiko kanker rahim sampai 26%.&lt;br /&gt;7. Pengkonsumsian buah-buahan, sayuran, dan minyak zaitun memiliki peran penting dalam melindungi tubuh dari kanker kolon.&lt;br /&gt;8. Penggunaan minyak zaitun sebagai krim kulit setelah berenang melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma)&lt;br /&gt;9. Berpengaruh positif melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi risiko tukak lambung.&lt;br /&gt;10. Mengandung lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi manusia seperti yang terdapat dalam ASI.&lt;br /&gt;11. Penggunaan sebagai minyak rambut mampu membunuh kutu dalam waktu beberapa jam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penyakit itu ada obatnya, seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan penyembuhnya. Hanya saja ada orang yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengetahui dan menerapkan pengobatan yang terbukti kemanjurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji:&lt;br /&gt;Keajaiban Thibbun Nabawi, Aiman bin ‘Abdul Fattah&lt;br /&gt;Metode Pengobatan Nabi SAW, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah&lt;br /&gt;(www.muslimah.or.id)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-8206514335889545103?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/8206514335889545103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=8206514335889545103' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/8206514335889545103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/8206514335889545103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/minyak-zaitun.html' title='Minyak Zaitun'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4yajvde3tI/AAAAAAAAAE0/nEMuQIave-k/s72-c/Minyak+Zaitun.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-7658709933782601936</id><published>2008-01-15T14:16:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:53.729+03:00</updated><title type='text'>Madu atau 'Asl العسل</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4yXDfde3rI/AAAAAAAAAEk/cl-mqxI19nQ/s1600-h/Honey2.jpeg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4yXDfde3rI/AAAAAAAAAEk/cl-mqxI19nQ/s200/Honey2.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155661759672934066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hasil penelitian tentang madu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;a. Bakteri tidak mampu melawan madu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianjurkan memakai madu untuk mengobati luka bakar. Madu memiliki spesifikasi anti proses peradangan (inflammatory activity anti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Madu kaya kandungan antioksidan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antioksidan fenolat dalam madu memiliki daya aktif tinggi serta bisa meningkatkan perlawanan tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Madu dan kesehatan mulut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila digunakan untuk bersikat gigi bisa memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi, mengobati sariawan dan gangguan mulut lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Madu dan kulit kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan cairan madu berkadar 90% (madu dicampur air hangat) dua hari sekali di bagian-bagian yang terinfeksi di kepala dan wajah diurut pelan-pelan selama 2-3 menit, madu dapat membunuh kutu, menghilangkan ketombe, memanjangkan rambut, memperindah dan melembutkannya serta menyembuhkan penyakit kulit kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Madu dan pengobatan kencing manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madu mampu menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes karena adanya unsure antioksidan yang menjadikan asimilasi gula lebih mudah di dalam darah sehingga kadar gula tersebut tidak terlihat tinggi. Madu nutrisi kaya vitamin B1, B5, dan C dimana para penderita diabetes sangat membutuhkan vitamin-vitamin ini. Sesendok kecil madu alami murni akan menambah cepat dan besar kandungan gula dalam darah, sehingga akan menstimulasi sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin. Sebaiknya penderita diabetes melakukan analisis darah dahulu untuk menentukan takaran yang diperbolehkan untuknya di bawah pengawasan dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Madu mencegah terjadinya radang usus besar (colitis), maag dan tukak lambung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madu berperan baik melindungi kolon dari luka-luka yang biasa ditimbulkan oleh asam asetat dan membantu pengobatan infeksi lambung (maag). Pada kadar 20% madu mampu melemahkan bakteri pylori penyebab tukak lambung di piring percobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Selain itu madu amat bergizi, melembutkan sistem alami tubuh, menghilangkan rasa obat yang tidak enak, membersihkan liver, memperlancar buang air kecil, cocok untuk mengobati batuk berdahak. Buah-buahan yang direndam dalam madu bisa bertahan sampai enam bulan.&lt;br /&gt;Madu terbaik adalah yang paling jernih, putih dan tidak tajam serta yang paling manis. Madu yang diambil dari daerah gunung dan pepohonan liar memiliki keutamaan tersendiri daripada yang diambil dari sarang biasa, dan itu tergantung pada tempat para lebah berburu makanannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-7658709933782601936?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/7658709933782601936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=7658709933782601936' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/7658709933782601936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/7658709933782601936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/madu-atau-asl.html' title='Madu atau &apos;Asl العسل'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4yXDfde3rI/AAAAAAAAAEk/cl-mqxI19nQ/s72-c/Honey2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-1033051918044897423</id><published>2008-01-15T00:32:00.001+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:53.880+03:00</updated><title type='text'>Fakta Thibbun Nabawi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4vZYfde3qI/AAAAAAAAAEc/4xBDLDRZH5g/s1600-h/buku+tibbun+nabawi.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4vZYfde3qI/AAAAAAAAAEc/4xBDLDRZH5g/s200/buku+tibbun+nabawi.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155453213240909474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span &gt;Saudaraku, tahukah kalian bahwa penyakit itu ada dua macam, penyakit hati dan penyakit jasmani? Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Qur’an. Klasifikasi jenis penyakit ini mengandung hikmah Ilahi dan kemukjizatan yang hanya bisa dicapai oleh kalangan medis di pertengahan abad ke-18. Sesungguhnya iman kepada Allah dan para Rasul, yaitu aqidah yang tertanam dalam hati, merupakan solusi pengobatan yang terpenting bagi hati, yakni bagi penyakit jiwa. Sedangkan untuk penyakit jasmani, kita bisa menengok metode pengobatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Thibbun Nabawi dimunculkan oleh para dokter muslim sekitar abad ke-13 M untuk menunjukkan ilmu-ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan pada Allah, sehingga terjaga dari kesyirikan, takhayul dan khurofat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span&gt;Habbatus Sauda’ atau Jinten Hitam atau Syuwainiz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. bahwa ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sungguh dalam habbatus sauda’ itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.” Saya bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian”.&lt;br /&gt;Habbatus sauda’ berkhasiat mengobati segala jenis penyakit dingin, bisa juga membantu kesembuhan berbagai penyakit panas karena faktor temporal. Biji habbatus sauda’ mengandung 40% minyak takasiri dan 1,4% minyak atsiri, 15 jenis asam amino, protein, Ca, Fe, Na dan K. kandungan aktifnya thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY). Telah terbukti dari berbagai hasil penelitian ilmiah bahwa habbatus sauda’ mengaktifkan kekebalan spesifik/kekebalan didapat, karena ia meningkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel-sel T penekan, dan sel-sel pembunuh alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa resep penggunaan dan manfaat habbatus sauda’:&lt;br /&gt;A. Ditumbuk, dibuat adonan dangan campuran madu, kemudian diminum setelah dicampur air panas, diminum rutin berhari-hari: menghancurkan batu ginjal dan batu kandung kencing, memperlancar air seni, haid dan ASI.&lt;br /&gt;B. Diadon dengan air tepung basah atau tepung yang sudah dimasak, mampu mengeluarkan cacing dengan lebih kuat.&lt;br /&gt;C. Minum minyaknya kira-kira sesendok dicampur air untuk menghilangkan sesak napas dan sejenisnya.&lt;br /&gt;D. Dimasak dengan cuka dan dipakai berkumur-kumur untuk mengobati sakit gigi karena kedinginan.&lt;br /&gt;E. Digunakan sebagai pembalut dicampur cuka untuk mengatasi jerawat dan kudis bernanah.&lt;br /&gt;F. Ditumbuk halus, setiap hari dibalurkan ke luka gigitan anjing gila sebagian dua atau tiga kali oles, lalu dibersihkan dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk konsumsi rutin menjaga kesehatan, sebaiknya dua sendok saja. Sebagian kalangan medis menyatakan bahwa terlalu banyak mengkonsumsinya bisa mematikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-1033051918044897423?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/1033051918044897423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=1033051918044897423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1033051918044897423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1033051918044897423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2008/01/fakta-thibbun-nabawi.html' title='Fakta Thibbun Nabawi'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R4vZYfde3qI/AAAAAAAAAEc/4xBDLDRZH5g/s72-c/buku+tibbun+nabawi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-7683199773757878833</id><published>2007-11-19T22:32:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:54.110+03:00</updated><title type='text'>AL HIJAMAH FOR ENGLISH READER</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R0HnUGOjx3I/AAAAAAAAADk/1dWwAetlH8I/s1600-h/bismillah.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R0HnUGOjx3I/AAAAAAAAADk/1dWwAetlH8I/s200/bismillah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134639382634153842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R0HnFmOjx2I/AAAAAAAAADc/Bbmsir5WFCs/s1600-h/red+crescent.gif"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R0HnFmOjx2I/AAAAAAAAADc/Bbmsir5WFCs/s200/red+crescent.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134639133526050658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Al-hijaamah (cupping): what Islam says about it, its benefits and the times when it should be done&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Question:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;I would like to know when al hijama (cupping) began to be practiced according to the sunnah, and the manner in which it should be performed. Are there recommended times for one to have it done, or times that one should avoid cupping? We are hoping to begin this prectice for sisters, and wish to make sure that we would be perfoming it strictly according the the sunnah of Rasool Allaah, sallalahu alaihi wa salaam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jazakum Allaahu kullu khairan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Answer:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Praise be to Allaah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hijaamah comes from the root al-hajm, which means “sucking”, and is used of the action of draining the breast when an infant is suckled. Al-hajjaam is the name given to the cupper, and hijaamah is the name given to this profession. Al-mihjam is the name given to the tool in which blood is collected, or to the knife used by the cupper.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ibn ‘Abbaas (may Allaah be pleased with them both) reported that the Prophet  (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Healing is to be found in three things: drinking honey, the knife of the cupper, and cauterization of fire.” (Reported by al-Bukhaari, 10/136).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;According to a hadeeth narrated by Jaabir (may Allaah be pleased with him), the Prophet  (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “If there is any good in your medical treatments, it is in the knife of the cupper, drinking honey, or cauterization with fire, as appropriate to the cause of the illness, but I would not like to be cauterized.” (Reported by al-Bukhaari, 10/139)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;According to a hadeeth narrated by Anas ibn Maalik, may Allaah be pleased with him, the Prophet  (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “I did not pass by any group on the night when I was taken on the Night Journey (Isra’), but they said to me, ‘O Muhammad, tell your ummah to do cupping.’” (Reported by Ibn Maajah; it has corroborating evidence which strengthens it).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ibn ‘Abbaas (may Allaah be pleased with them both) reported that the Prophet  (peace and blessings of Allaah be upon him) was treated with cupping, and he paid the cupper his fee.” (Reported by al-Bukhaari, 10/124; Muslim 1202).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Anas ibn Maalik (may Allaah be pleased with him) reported that the Messenger of Allaah  was treated with cupping by Abu Tayyibah. He commanded that he should be given two measures of food, and he spoke with his tax-collectors, who reduced his taxes. He said, “The best treatment you can use is cupping.” (Reported by al-Bukhaari, 10/126; Muslim, 1577)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;With regard to the times when cupping is recommended:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;It was reported from Ibn ‘Abbaas (may Allaah be pleased with them both) that the Prophet  (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “The best times to be treated with cupping are the seventeenth, nineteenth or twenty-first [of the month].” (Reported by al-Tirmidhi, 2054; the isnaad is da’eef).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;It was reported from Anas ibn Maalik (may Allaah be pleased with him) that the Prophet  (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Whoever wants to be treated by cupping, let him do it on the seventeenth, nineteenth or twenty-first, lest the blood flow too copiously and kill him.” (Reported by Ibn Maajah, 3489; there is some weakness in the report).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Abu Hurayrah (may Allaah be pleased with him) reported that the Prophet  (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Whoever is treated with cupping on the seventeenth, nineteenth or twenty first, will be healed from all diseases.” (Reported by Abu Dawood, 3861, and al-Bayhaqi, 9/340. The isnad is hasan).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Although the ahaadeeth quoted above are from different sources and may be weak to some extent, they give strength to one another.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Imaam Ibn al-Qayyim (may Allaah have mercy on him) said:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“These ahaadeeth coincide with what the doctors agree on, that cupping should be done in the second half of the month, and that the third quarter of the month is better than the beginning or the end. But if cupping is done out of necessity it is beneficial at any time, even at the beginning or end of the month. Al-Khallaal said: ‘Ismah ibn ‘Isaam told me: Hanbal told me: Abu ‘Abd-Allaah Ahmad ibn Hanbal would be treated with cupping whenever his blood increased, no matter what time it was… They disliked having cupping done on a full stomach, because that could lead to obstruction and grievous diseases, especially if the food was heavy and bad… Choosing the times mentioned above for cupping is an extra precaution, to be on the safe side and to protect one’s health, but when it comes to treating disease, whenever it is necessary it should be used.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Al-Haafiz ibn Hajar (may Allaah have mercy on him) said: “According to the doctors, the most efficacious cupping is that which is done at the second or third hour, after having intercourse or taking a bath, etc., and neither on a full nor empty stomach. With regard to specific days for administering cupping, it was reported in a hadeeth narrated from Ibn ‘Umar by Ibn Maajah that the Prophet  (peace and blessings of Allaah be upon him) said: ‘Administer cupping, may Allaah bless you, on Thursdays, and administer cupping on Mondays and Tuesdays, but avoid cupping on Wednesdays, Fridays, Saturdays and Sundays.’ It was reported with two da’eef isnads, and there is a third version, also da’eef, reported by al-Daaraqutni in al-Afraad. He also reported it with a jayyid isnaad from Ibn ‘Umar but it is mawqoof (the isnad stops at the Sahaabi). Al-Khallaal reported that Ahmad disliked cupping on the days mentioned, even though the hadeeth was not proven. It was said that a man was treated with cupping on a Wednesday and he developed leprosy because he ignored the hadeeth. Abu Dawood reported from Abu Bakrah that he disliked cupping on Tuesdays, and said: “The Messenger of Allaah  (peace and blessings of Allaah be upon him) said: ‘Tuesday is the day of blood, and on that day there is an hour when blood does not stop.’ The doctors are agreed that cupping in the second half of the month, especially in the third quarter, is more beneficial than cupping at the beginning or end of the month. Al-Muwaffaq al-Baghdaadi said: The body fluids (humours) flow heavily at the beginning of the month and calm down at the end, so the best time to let the blood flow is in the middle of the month.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;It is clear from the above that the ahaadeeth which specify a particular time, when taken as a whole, indicate that there is a basis for this, especially since the words of the doctors are in agreement with it. If the seventeenth or nineteenth or twenty-first of a hijri month happens to be a Thursday, this is the best possible time for cupping, but this is not to say that it is not good to do it at other times. As a form of medical treatment, cupping should not be restricted to any particular time; it should be done as needed by the patient.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;It is essential to make sure that you do it properly; cupping should be done by one who is experienced and he or she should use instruments that are properly cleaned and sterilized. The cupper must also ensure that no blood reaches the stomach of the patient.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;We ask Allaah to help us and you to follow the Sunnah. May Allaah bless our Prophet Muhammad.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;See: Fath al-Baari by Ibn Hajar, 10/149; Sharh al-Zarqaani ‘ala al-Muwatta’, 2/187; al-Mughni by Ibn Qudaamah, 1/184; al-Ma’aad by Ibn al-Qayyim, 4/60.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Islam Q&amp;amp;A &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Sheikh Muhammed Salih Al-Munajjid&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-7683199773757878833?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/7683199773757878833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=7683199773757878833' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/7683199773757878833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/7683199773757878833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/11/al-hijamah-for-english-reader.html' title='AL HIJAMAH FOR ENGLISH READER'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R0HnUGOjx3I/AAAAAAAAADk/1dWwAetlH8I/s72-c/bismillah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-5683554007177050827</id><published>2007-11-18T16:28:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:54.270+03:00</updated><title type='text'>Kewajiban - kewajiban orang yang sakit</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R0A-zmOjxzI/AAAAAAAAAC8/1nxznnqhibk/s1600-h/bismillah.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R0A-zmOjxzI/AAAAAAAAAC8/1nxznnqhibk/s400/bismillah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134172631358228274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Kewajiban-kewajiban Orang yang Sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Orang yang sakit memiliki kewajiban untuk senantiasa ridha terhadap qadha Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersabar atas taqdir-Nya serta berbaik sangka kepada Rabbnya. Itu yang lebih baik baginya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَجَبًا لاَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لاَحَدٍ إِلا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik dan tidaklah yang demikian itu ada kecuali pada seorang mukmin. Yaitu jika ia mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika mendapat kesempitan ia bersikap sabar, itu pun menjadi kebaikan baginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah salah seorang kalian mati kecuali dalam keadaan ia berbaik sangka kepada Allah Ta’aala.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim, Imam Al-Baihaqi dan Imam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seyogyanya orang yang sedang sakit memiliki perasaan antara rasa takut dan harap, yaitu takut akan siksa Allah ‘Azza wa Jalla atas dosa-dosanya dan berharap akan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya. Sikap ini didasarkan pada hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu yang mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدُكَ قَالَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam datang kepada seorang pemuda yang hendak meninggal, maka beliau berkata: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saya sangat berharap kepada (rahmat) Allah dan saya sangat takut akan (siksa Allah) atas dosa-dosa saya.” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berkata: “Tidaklah dua perkara tersebut ada pada hati seorang hamba yang dalam kadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan akan Allah amankan ia dari apa yang ditakutkannya.”&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan sanadnya hasan. Juga Imam Ibnu Majah dan Imam Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawa’id Az-Zuhd (halaman 34-35), juga Imam Ibnu Abid Dunya sebagaimana dalam At-Targhib (4/141) dan lihat juga dalam Al-Misykah-nya (1612).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Seberat apapun sakit yang diderita, tidak boleh baginya untuk berangan-angan ingin mati. Hal ini karena ada hadits Ummul Fadhl Radhiyallahu’anha, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pernah datang kepada mereka tatkala ‘Abbas Radhiyallahu’anhu (paman Rasulullah) menderita sakit, hingga ‘Abbas berangan-angan ingin mati. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا عَمَّي لا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا فأن تؤخّر تَزْدَادُ إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ خَيْرٌ لَكَ وَإِنْ كُنْتَ مُسِيئًا فَإِنْ تُؤَخَّرْ تَسْتَعْتِبْ خَيْرٌ لَكَ فَلَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai pamanku, janganlah engkau berangan-angan ingin mati, karena sesungguhnya jika engkau termasuk orang yang suka beramal baik, apabila ditangguhkan ajalmu lalu engkau bisa menambah kebaikan lagi kepada kebaikanmu, itu akan lebih baik bagimu. (Sebaliknya), jika engkau termasuk orang yang suka beramal buruk, apabila ditangguhkan ajalmu lalu engkau merasa bersalah atas amal-amal burukmu (menyesal), itu juga lebih baik bagimu. Maka janganlah berangan-angan ingin mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/339), Imam Abu Ya’laa (7076) dan Imam Al-Hakim (1/339), dan beliau katakan: Hadits ini shahih atas persyaratan Syaikhaini (Bukhari dan Muslim). Pernyataan ini disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi. Tetapi sebenarnya hanya memenuhi persyaratan Imam Bukhari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan juga oleh Syaikhaini (Bukhari dan Muslim) dan Al-Baihaqi (3/377) maupun yang lain dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu hadits yang semisalnya secara marfu’, di dalamnya terdapat perkataan: “Kalau terpaksa mesti melakukannya maka ucapkanlah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila mati itu lebih baik bagiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini juga dikeluarkan dalam Al-Irwa’ (683).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jika ia masih memiliki tanggungan atas hak-hak orang lain, hendaklah ia tunaikan kepada yang berhak apabila hal itu mudah baginya. Jika tidak mudah, hendaklah ia berwasiat (kepada keluarganya). Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ كَانَتْ عنده مَظْلَمَةٌ لاَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْماله فليؤدّه اليه قَبْلَ أَنْ يَأتي يوم القيامة لا يقبل فيه دِينَارٌ وَلا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ وأعطي صاحبه وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عمل صالح أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَت عَلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa pernah mendhalimi hak saudaranya dalam hal harga diri[1] atau hartanya, hendaklah ia selesaikan sebelum datang hari kiamat, hari yang tidak diterima dinar tidak pula dirham. Jika ia punya amalan shalih maka diambil darinya lalu diberikan kepada orang yang punya hak. Jika ia tidak punya amalan shalih, maka diambil dosa-dosa orang yang bersangkutan lalu dibebankan kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Al-Baihaqi (3/369).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam juga berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang sudah tidak punya dirham dan tidak punya harta benda.” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kemudian berkata: “Orang yang bangkrut di antara umatku (adalah orang yang) datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, tetapi ia juga datang dengan membawa (dosa) mencaci orang itu, menuduh orang ini dan memakan harta si itu, menumpahkan darah si ini dan pernah memukul si itu. Maka diberikan kepada si ini dari kebaikannya dan kepada si itu dari kebaikannya. Jika telah habis kebaikannya, sedangkan belum terlunasi tanggungannya, diambillah dosa-dosa mereka lalu dibebankan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” Dikeluarkan oleh Imam Muslim (8/18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من مات و عليه دين, فليس ثمّ دينار ولا درهم, ولكنها الحسنات والسيئات&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang meninggal dan masih punya tanggungan hutang, maka disana tidak ada dinar tidak pula dirham, tetapi yang ada adalah amalan-amalan baik atau amalan-amalan buruk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim (2/27) dan konteks hadits ini dalam riwayatnya. Juga Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad (2/70-82) dari dua jalan dari Ibnu Umar, jalan yang pertama shahih sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, sedangkan jalan yang kedua hasan sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al-Mundziri (3/34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga oleh Imam Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dengan lafadz:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hutang itu ada dua macam. Barang siapa yang mati sedangkan ia berniat untuk melunasi hutangnya maka aku yang menjadi walinya. Barang siapa mati sedangkan ia tidak berniat untuk melunasinya maka itulah orang yang diambil amalan baiknya, tidak ada pada hari itu dinar tidak pula dirham.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhu berkata: Ketika terjadi peperangan Uhud, ayahku memanggilku pada malam harinya, lalu berkata: “Tidaklah ditampakkan kepadaku dalam mimpi kecuali aku menjadi orang yang pertama terbunuh di antara para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam. Sesungguhnya aku tidak meninggalkan setelah matiku orang yang lebih aku cintai daripadamu selain diri Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Aku punya tanggungan hutang maka lunaskanlah, serta berilah wasiat kebaikan kepada saudara-saudaramu.” Maka ketika pagi harinya dialah orang yang pertama terbunuh, semoga Allah meridhainya. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1351).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Orang yang sakit hendaknya bersegera untuk menyiapkan wasiat karena ada sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ و لَهُ شَيْءٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ إِلا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak benar bagi seorang muslim yang bermalam dua malam sedangkan ia punya sesuatu yang ingin diwasiatkannya kecuali semestinya wasiat itu telah ditulis di sisinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma berkata: “Tidaklah berlalu satu malam sejak aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengatakan itu kecuali sudah kutulis wasiatku.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim juga Ashabus Sunan maupun yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Wajib baginya untuk memberikan wasiat kepada sanak kerabatnya yang tidak menerima warisan darinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Boleh baginya untuk berwasiat dengan sepertiga hartanya, tidak boleh lebih. Bahkan yang afdhal (lebih utama) kurang dari sepertiga, karena adanya hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu’anhu, ia mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika aku bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pada waktu haji wada’, aku jatuh sakit yang mendekati kematian. Maka Rasulullah mejengukku. Lalu kukatakan kepada beliau: “Ya Rasulullah, saya memiliki harta yang sangat banyak, tetapi tidak ada yang mewarisi kecuali anak perempuan saya. Apa boleh saya berwasiat dengan dua pertiga harta saya?” Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Kata Sa’ad: Aku berkata lagi: “Kalau separoh hartaku?” Beliau menjawab: “Tidak boleh”. Kukatakan lagi: “Kalau sepertiga hartaku?” Kata beliau: “Ya sepertiga, itu sudah banyak. Sesungguhnya engkau wahai Sa’ad, kau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kecukupan itu lebih baik bagimu daripada kau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin minta-minta kepada manusia (dengan tangannya). Wahai Sa’ad, tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah dalam rangka mencari wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala. Sampai-sampai suapan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (Kata Sa’ad: “Maka yang kurang dari sepertiga boleh.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (1524) dan konteks hadits ini ada dalam riwayat beliau. Juga oleh Syaikhaini. Tambahan dalam kurung ada dalam riwayat Imam Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhu berkata: Saya sangat senang kalau orang-orang menurunkan dari sepertiga hingga seperempat dalam wasiat, karena Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam mengatakan: “Sepertiga itu sudah banyak.” Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (2029, 2076), Syaikhaini, juga Al-Baihaqi (6/269) maupun yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Hendaklah dalam berwasiat ini disaksikan oleh dua orang yang jujur yang muslim. Jika tidak ada maka bisa dengan dua orang (yang jujur) non muslim dengan diminta agar keduanya bersumpah untuk bisa dipercaya apabila ragu akan persaksiannya, sesuai dengan apa yang diterangkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ ءَاخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلَاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَآخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْأَوْلَيَانِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا وَمَا اعْتَدَيْنَا إِنَّا إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يَأْتُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَى وَجْهِهَا أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kalian menghadapi kematian sedangkan ia akan berwasiat, maka hendaklah disaksikan (wasiat itu) oleh dua orang yang adil/jujur di antara kalian atau dua orang yang selain kalian. Jika kalian dalam perjalanan di muka bumi lalu kalian ditimpa bahaya kematian, maka kalian tahan kedua orang saksi tersebut setelah shalat agar mereka berdua bersumpah dengan nama Allah jika kalian ragu (dengan mereka mengatakan): Demi Allah kami tidak akan menjual sumpah kami dengan harga yang sedikit walaupun (yang disaksikan) adalah karib kerabat kami, dan tidak pula kami akan menyembunyikan persaksian Allah. Sesungguhnya kami kalau demikian termasuk orang-orang yang berdosa. Jika diketahui bahwa kedua saksi itu berbuat dosa[3] maka digantikan oleh dua orang yang lain di antara ahli waris yang lebih berhak (mendapat warisan), lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah dengan mengatakan: Sesungguhnya persaksian kami lebih layak untuk diterima dari pada persksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas. Sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang dhalim. Yang demikian itu lebih dekat untuk menjadikan para saksi mengemukakan persaksiannya dengan sebagaimana mestinya, atau mereka takut kalau ditolak sumpahnya setelah mereka bersumpah. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah serta dengarkanlah (taatlah). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.” (Al-Maidah: 106-108)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Adapun berwasiat agar hartanya diberikan kepada kedua orang tua dan sanak kerabat yang berhak menerima warisan dari orang yang meninggalkan warisan itu, maka ini tidak boleh dilakukan. Karena hal ini sudah dimansukh dengan ayat tentang warisan. Dan telah dijelaskan pula oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan penjelasan yang paling sempurna, ketika beliau berkhutbah pada haji Wada’. Kata beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ وَلا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap yang punya hak, dan tidak ada wasiat bagi ahli waris.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi serta hasankan oleh beliau. Juga Imam Al-Baihaqi (6/264) dan mengisyaratkan kuatnya hadits ini. Sungguh beliau telah benar, karena sanadnya memang hasan. Hadits ini memiliki banyak penguat dalam riwayat Imam Al-Baihaqi. Lihatlah Majma’az Zawa’id (4/212).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Diharamkan membuat wasiat yang mendatangkan mudharat (kerugian) bagi orang lain, seperti berwasiat agar sebagian ahli waris jangan diberikan hak warisnya atau berwasiat agar melebihkan sebagian ahli waris atas sebagian yang lain. Hal ini disebabkan adanya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.”(An-Nisaa’: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir ayat waris ini disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesudah ditunaikan wasiat yang dipesan olehnya atau dibayar hutangnya dengan tidak menimbulkan mudharat (kerugian kepada ahli waris). Semua itu sebagai wasiat dari Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Lembut.” (An-Nisaa’: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga karena adanya sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا ضرر ولا ضرار, من ضارّ ضارّه الله, ومن شاقّ شاقّه الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah mendatangkan mudharat bagi orang lain dan jangan saling mendatangkan mudharat. Barang siapa yang berbuat kemudharatan niscaya Allah datangkan kemudharatan padanya. Dan Barang siapa yang berbuat permusuhan maka Allah memusuhinya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Ad-Daruquthni (522) dan Imam Al-Hakim (2/57-58) dari Abu Sa’id Al-Khudry. Imam Adz-Dzahabi menyepakati Imam Al-Hakim atas perkataannya: “Shahih memenuhi persyaratan Muslim.” Yang benar bahwa hadits ini adalah hadits hasan sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi dalam Al-Arba’in dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa (3/262) karena banyaknya jalan dan banyaknya penguat. Telah disebutkan oleh Al-Hafidh Ibnu Rajab dalam Syarah Arba’in (hal. 219 dan 220). Kemudian juga telah saya takhrij dalam Irwa’ul Ghalil (no. 888).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Wasiat yang lalim (tidak adil) hukumnya batil lagi tertolak, karena adanya sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من احدث في امرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada asal darinya, maka ia tertolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Syaikhaini dalam Shahih keduanya dan Imam Ahmad maupun yang lain. Lihatlah Al-Irwa’ (88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga karena adanya hadits ‘Imran bin Husein: Bahwa ada seseorang yang memerdekakan enam budak laki-laki setelah kematiannya (padahal ia tidak punya harta selain mereka). Lalu datanglah ahli warisnya yang berasal dari orang-orang Arab. Mereka memberitahukan apa yang diperbuat ini kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Rasulullah pun berkata: “Apa benar ia berbuat demikian?” Beliau melanjutkan: “Kalau saja kami tahu Insya Allah kami tidak menshalatkannya.” Kata ‘Imran: “Beliau kemudian mengundi budak-budak yang telah dimerdekakan, lalu memerdekakan dua orang di antara mereka dan mengembalikan yang empat orang tetap sebagai budak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (4/446) dan Imam Muslim yang semisal itu, demikian pula Imam Ath-Thahawi dan Imam Al-Baihaqi maupun yang lain. Tambahan dalam kurung ada dalam riwayat Imam Muslim, juga dalam salah satu riwayat Imam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Ketika banyak terjadi kebid’ahan pada sebagian besar kaum muslimin di masa ini. Begitu pula dalam permasalahan yang berkaitan dengan jenazah. Maka termasuk kewajiban seorang muslim adalah untuk berwasiat agar disiapkan (urusan kematiannya) dan agar dikuburkan berdasarkan Sunnah (tuntunan Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam), sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya para malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka senantiasa melakukan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berwasiat dengan hal itu. Atsar-atsar (riwayat) dari mereka dalam hal yang kami sebutkan sagatlah banyak. Tidak mengapa kami cukupkan sebagiannya saja, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari ‘Amar bin Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu’anhu, bapaknya pernah berkata ketika sakit yang menjadi sebab kematiannya: “Buatkanlah untukku liang lahat dan tegakkanlah di atasku batu bata sebagaimana hal itu juga dilakukan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.” Dikeluarkan oleh Imam Muslim dan Imam Al-Baihaqi (3/407) maupun selain beliau berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Abu Burdah, ia berkata: Ketika menjelang kematiannya, Abu Musa Radhiyallahu’anhu berwasiat, katanya: “Apabila kalian mengatarkan jenazahku maka cepatkanlah langkah kalian dan janganlah mengiringkan jenazahku dengan tempat bara api (anglo). Juga jangan jadikan di hadapanku sesuatupun yang menghalangi antara aku dengan tanah. Jangan pula mendirikan bangunan apapun di atas kuburku. Dan aku persaksikan kepada kalian bahwa aku berlepas diri dari setiap haliqah[5] atau saliqah[6] atau khariqah[7].” Mereka bertanya: “Apakah engkau mendengar sesuatu dalam hal itu?” Jawabnya: “Ya, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (4/397), Imam Baihaqi (3/395) dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari Hudzaifah Radhiyallahu’anhu ia mengatakan: “Jika aku mati, jangan kalian umumkan kematianku kepada seorangpun, sesungguhnya aku takut kalau perbuatan itu termasuk na’i (mengumumkan kematian yang dilarang), karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam melarang dari na’i.” Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi (2/129) dan beliau berkata: “Ini hadits hasan.” Diriwayatkan pula oleh yang lain hadits yang semisal dan akan datang pembahasannya dalam bab Na’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bab ini ada pula atsar lain yang akan datang dalam masalah ke 47. Tentang wasiat penguburan ini, Imam Nawawi Rahimahullah berkata dalam Al-Adzkar: “Dianjurkan baginya dengan anjuran yang kuat (ditekankan) untuk berwasiat kepada mereka agar menjauhi adat kebiasaan yang berlaku yang termasuk bid’ah dalam perkara jenazah. Hendaknya ia memperkuat perjanjian dalam masalah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foot Note:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Harga diri adalah tempat pujian atau celaan pada seseorang. Sama saja apakah itu pada dirinya sendiri ataukah pada moyangnya atau siapa saja yang urusannya mengharuskannya (dipuji atau dicela).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Ini adalah hadits yang shahih dengan adanya hadits yang sebelumnya dan dengan adanya hadits ‘Aisyah yang akan datang di akhir masalah ke-17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Yaitu jika telah diketahui secara sepakat bahwa kedua saksi yang bersumpah itu melakukan perbuatan dosa berupa dusta dan menyambunyikan persaksian atau berupa khianat dan menyembunyikan sebagian harta peninggalan ketika keduanya diberi amanah. Maka yang wajib, atau yang harus dilakukan untuk menerngkan yang benar adalah dikembalikannya sumpah itu kepada para ahli waris. Yaitu dengan cara kedua orang saksi itu digantikan oleh dua orang dari wali mayit yang mewarisinya, yang dianggap lebih layak sebagai saksi karena adanya dosa (pada dua saksi awal tadi) yang akan menjadi kejahatan dan pengkhianatan terhadap mereka (ahli waris). Demikian disebutkan dalam Tafsir Al Manar. Untuk kesempurnaan pembahasan ini merujuklah ke sana (7/222).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Yang memansukh (menghapus) hukumnya adalah Al-Qur’an itu sendiri. sedangkan As-sunnah hanya menjelaskannya, sebagaimana yang kami sebutkan. Juga sebagaimana nampak jelas dari khutbah Rasulullah n. Tidak seperti apa yang dituduhkan oleh banyak orang, bahwa hadits inilah yang memansukhkannya. Kemudian sebagian orang di masa ini merasa dengki dengan kenyataan ini hingga mereka menuduh bahwa hadits ini adalah hadits ahad yang tidak bisa untuk menghapus Al-Qur’an. Selain tuduhan ini sendiri batil, karena yang benar bahwa hadits ahad bisa menghapus Al-Qur’an. Padahal sungguh telah anda ketahui jawabnya bahwa yang menghapus hukum ini adalah Al-Qur’an. Kalaupun toh kita terima bahwa yang menghapus adalah hadits ini, maka hadits ini juga bisa menghapuskannya berdasar kesepakatan ulama’. Karena para ulama’ semuanya mengambilnya dengan penuh terima. Apalagi hadits ini hadits yang mutawatir yang bisa diketahui oleh orang yang meneliti jalan-jalannya yang banyak dan dikuatkan di dalam kitab-kitab kumpulan Sunnah maupun musnad. Semoga kami diberi taufiq untuk mentakhrijnya dan memberikan tahqiq kepadanya dalam juz yang tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian telah saya kumpulkan jalan-jalannya dan saya keluarkan dalam Irwa’ul Ghalil (no.16). Dan lebih dari sepuluh jalan, dari delapan sahabat. Sebagiannya shahih, sebagian lagi hasan dan sebagian lagi dhaif munjabir (ringan kelemahannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Haliqah adalah wanita yang menggundul kepalanya ketika mendapat musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Saliqah adalah wanita yang berteriak meraung-raung ketika mendapat musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Khariqah adalah wanita yang menyobek-nyobek baju (krah) ketika mendapat musibah.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ashthy.wordpress.com/2007/11/04/kewajiban-kewajiban-orang-yang-sakit/#more-203"&gt;http://ashthy.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-5683554007177050827?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/5683554007177050827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=5683554007177050827' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/5683554007177050827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/5683554007177050827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/11/kewajiban-kewajiban-orang-yang-sakit.html' title='Kewajiban - kewajiban orang yang sakit'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/R0A-zmOjxzI/AAAAAAAAAC8/1nxznnqhibk/s72-c/bismillah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-2901914257726610372</id><published>2007-11-15T19:39:00.001+03:00</published><updated>2007-11-18T16:44:26.323+03:00</updated><title type='text'>KURMA</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tak Sekedar Hidangan Buka Puasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kurma tak semata hidangan buka puasa. Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari buah yang mudah dijumpai karena tak mengenal musim ini (afwan, korma juga ada muslimnya lho...biasanya buahnya matang ketika musim panas, antara bulan Juli-September sehingga kita  bisa memetik/beli korma yang masih mentah atau baru masak (ruthob namanya=korma yang masih basah,ed). Kandungan kaliumnya yang tinggi, menjadikan kurma ampuh untuk mencegah stroke. Selain itu, dengan vitamin B6 dan protein yang terdapat di dalamnya, kurma dapat mencegah dermatitis (infeksi kulit) dan membuat warna kulit menjadi segar dan tidak pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah-buahan dikenal sebagai sumber utama vitamin, terutama vitamin C dan mineral. Namun kandungan energi atau kalorinya rendah, sebab lemak yang dikandungnya juga rendah. Berbeda halnya dengan kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan lemak pada kurma memang bisa diabaikan. Tapi karbohidratnya yang tinggi membuat buah ini bisa menyediakan energi yang tinggi pula. Malah paling tinggi di antara keluarga besar buah-buahan. Keunggulan lainnya, kurma mengandung zat gizi penting bagi fungsi tubuh, terutama jantung dan pembuluh darah, yaitu kalium. Fungsi mineral ini membuat denyut jantung makin teratur, mengaktifkan kontraksi otot, serta membantu mengatur tekanan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya kurma menjadi istimewa. Apalagi, beberapa penelitian membuktikan, makanan tinggi kalium bisa menurunkan resiko serangan stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Mencegah Stroke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin banyak makanan kaya kalium yang dikonsumsi biasanya makin kecil kemungkinan orang menderita stroke. Para peneliti menyimpulkan dengan hanya makan satu porsi ekstra makanan kaya kalium (minimal 400 mg setiap hari) resiko fatal bisa diturunkan hingga 40%. Batas 400 mg kalium itu mudah sekali Anda penuhi dengan makan kurma kering sekitar 65 g saja, atau setara dengan lima butir kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan tinggi kalium, menurut seorang pakar penyakit darah tinggi, juga bisa membantu menurunkan tekanan darah serta bisa memberi kekuatan tambahan dalam mencegah stroke secara langsung, bagaimana pun kondisi tekanan darah seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan hal itu, ia melakukan eksperimen pada dua kelompok tikus yang terserang hipertensi. Satu kelompok tikus diberi diet tinggi kalium dan kelompok lain diet kalium normal. Hasilnya luar biasa. Di antara kelompok tikus yang mendapat suapan kalium tinggi, tak satu pun mengalami perdarahan otak. Sementara 40% pada kelompok tikus yang mendapat kalium normal menderita stroke ringan yang dibuktikan dengan adanya perdarahan otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian itu, ditarik kesimpulan bahwa konsumsi ekstra kalium bisa menjaga dinding arteri tetap elastis dan berfungsi normal. Keadaan ini membuat pembuluh darah tidak mudah rusak akibat tekanan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelas, kurma yang sering disuguhkan sebagai salah satu hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan, bukan makanan pembuka biasa. Diam-diam ia menyimpan senjata potensial antistroke dan anti serangan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kalium yang berguna bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, kurma juga mengandung salisilat. Zat ini, dikenal sebagai bahan baku aspirin, obat pengurang atau penghilang rasa sakit dan demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salisilat bersifat mencegah pembekuan darah, antiinflamasi, dan berdampak melenyapkan rasa nyeri. Kecuali itu, salisilat juga bisa mempengaruhi prostaglandin (kelompok asam lemak hidroksida yang merangang kontraksi otot polos dan menurunkan tekanan darah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Komposisi Gizi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nilai gizi utama yang diandalkan kurma memang kandungan karbohidrat sederhananya, alias gulanya yang tinggi. Kandungan karbohidratnya berkisar dari sekitar 60% pada kurma lembek (yang dipanen sewaktu masih lembek dan mentah) hingga sekitar 70% pada kurma kering (yang mengering di pohon, terjemur matahari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan varietas kurma mengandung gula glukosa (jenis gula yang ada dalam darah) atau fruktosa (jenis gula yang terdapat dalam sebagian besar buah-buahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut seorang dokter dari Mesir, kurma mengandung zat gula 70%. Sebagian besar zat gula yang terdapat di dalamnya sudah diolah secara alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Seperti halnya gula pada buah-buahan yang dinamai fruktosa, zat ini mudah dicerna dan mudah dibakar oleh tubuh. Dengan demikian akan menghasilkan tenaga yang tinggi, tanpa mempersulit tubuh untuk mengolah, mencerna, dan menjadikannya sebagai gizi yang baik. Itu sebabnya mengapa kurma dianggap sebagai buah yang ideal untuk hidangan berbuka puasa ataupun sahur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segelas air yang mengandung glukosa, akan diserap tubuh dalam 20-30 menit, tetapi gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam tempo 45-60 menit. Artinya, orang yang makan cukup banyak kurma pada waktu sahur akan menjadi lebih segar dan tahan lapar, karena bahan pangan ini juga kaya akan serat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan kurma lainnya mengandung berbagai vitamin penting, seperti vitamin A, thiamin, dan riboflavin dalam jumlah yang bisa diandalkan, serta niasin dan kalium dalam jumlah yang sangat andal. Selain itu, buah ini ternyata juga memuat berbagai zat gizi lain seperti zat besi, vitamin B, asam nikotinat serta serat (bukan zat gizi) dalam jumlah memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap 100 g kurma kering terkandung vitamin A 50 IU, thiamin 0,09 mg, riboflavin 0,10 mg, niasin 2,20 mg, serta kalium 666 mg. Zat-zat gizi itu berfungsi membantu melepaskan energi, menjaga kulit dan saraf agar tetap sehat serta penting untuk fungsi jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riboflavin dan niasin misalnya, akan membantu melepaskan energi dari makanan, sementara thiamin membantu melepaskan energi dari karbohidrat. Vitamin A dan niasin memainkan peranan dalam membentuk dan memelihara kulit yang sehat. Thiamin penting bagi sel-sel saraf, sementara niasin menjaga fungsi normal saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurma juga mengandung banyak mineral penting, seperti magnesium, potasium, dan kalsium. Mineral-mineral itu sangat diperlukan oleh tubuh. Serat yang terdapat dalam kurma berfungsi melunakkan usus dan mengaktifkannya, yang secara alami bisa mempermudah buang air besar. Dalam kurma juga terdapat semacam hormon potuchsin yang bisa menciutkan pembuluh darah dalam rahim, sehingga bisa mencegah perdarahan rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Kurma dan Kecantikan Kulit&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini khasiat lain dari kurma. Kurma ternyata juga mampu membuat kulit segar dan mencegah infeksi kulit. Kandungan vitamin B6 dan protein yang terdapat di dalamnya, sanggup mencegah dermatitis (infeksi kulit) dan membuat warna kulit menjadi segar dan tidak pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Body scrub dari buah kurma yang dicampur buah cranberries dan juice aprikot dapat akan menghasilkan suatu ramuan perawatan kulit yang mengandung vitamin C, vitamin A, vitamin B6 dan protein, yang semuanya berguna untuk membersihkan, melembutkan dan menjaga kekenyalan kulit anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuatnya sebagai berikut;&lt;br /&gt;ambil 8 buah kurma, ½ ons buah cranberries beku, ½ cangkir juice aprikot (bisa dibeli di supermarket yang banyak menjual produk import), dan ½ sendok teh oatmeal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah siap dengan bahan-bahannya, anda tinggal memasukan semua bahan ke dalam blender, dan proseslah hingga semua bahan lumat dan menjadi halus. Selanjutnya gunakan bahan-bahan yang sudah menyatu tadi sebagai scrub pada saat mandi. Caranya, basahi tubuh Anda dengan air hangat, lalu lumurkan dan gosok tubuh Anda dengan campuran kurma dan aprikot tadi. Lakukan dengan lembut dan perlahan-lahan. Selanjutnya basahi tubuh Anda dengan air hangat, kemudian mandilah seperti biasa dengan air dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anang Fauzi dari berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari Majalah Asy-Syariah Vol. 1 No. 03 hal 73-74&lt;br /&gt;* dengan tambahan gambar&lt;br /&gt;SUMBER:"&gt;elha.wordpress.com/2007/08/16/kurma-tak-sar-hidangan-buka-puasa/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-2901914257726610372?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/2901914257726610372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=2901914257726610372' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/2901914257726610372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/2901914257726610372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/11/kurma.html' title='KURMA'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-5919959829926129668</id><published>2007-11-12T07:35:00.000+03:00</published><updated>2008-12-09T11:50:54.829+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengumuman'/><title type='text'>Semuanya GRATIS....!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/RzfngNw2-UI/AAAAAAAAABE/R_FHohsxRt0/s1600-h/Bunga+kelap+kelip.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/RzfngNw2-UI/AAAAAAAAABE/R_FHohsxRt0/s400/Bunga+kelap+kelip.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131824841048389954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Assalamu 'alaikum.......&lt;br /&gt;Khabar gembira.....!!!&lt;br /&gt;Kami menyediakan layanan gratis:&lt;br /&gt;1. Belajar hijamah; teori dan praktek (kalo alatnya beli lho...)&lt;br /&gt;2. Ngaji bareng; Tajwid, Tahfidz Al Qu'an Juz 30 dan Ta'lim Dien&lt;br /&gt;3. Diskusi Agama Islam, Kesehatan dan Hijamah.&lt;br /&gt;Pengajar: Asep dan Rashid&lt;br /&gt;Tempat  : Hostel Perawat Hawally, Kuwait.&lt;br /&gt;Waktu   : Ba'da Isya untuk waktu sekarang ini. &lt;br /&gt;Contact Number: Abu Shofiyah, 6646806.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-5919959829926129668?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/5919959829926129668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=5919959829926129668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/5919959829926129668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/5919959829926129668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/11/semuanya-gratis.html' title='Semuanya GRATIS....!!!'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/RzfngNw2-UI/AAAAAAAAABE/R_FHohsxRt0/s72-c/Bunga+kelap+kelip.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-4248981655880476530</id><published>2007-11-12T07:15:00.000+03:00</published><updated>2007-11-12T07:21:12.677+03:00</updated><title type='text'>Jadwal Kajian Salafi di Kuwait</title><content type='html'>Assalamu'alaikum...&lt;br /&gt;Berikut beberapa jadwal kajian ahli sunnah salafi di kuwait:&lt;br /&gt;1. Tiap hari rabu ba'da isya di Khaldiyah blok 1, Syeikh Muhammad Al Anjary, membahas kitab Syarhus Sunnah Al Barbahari.&lt;br /&gt;2. Tiap hari Sabtu jam 7 PM di Ali Abdullah Salim, Al Ustadz Uthman Beecher Al Amriki, Kitab Ushul Atsalaatsah.&lt;br /&gt;3. Kajian bulanan tiap hari Kamis pekan pertama, Ustadz Uthman Beecher Al Amriki, jam 7 PM.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-4248981655880476530?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/4248981655880476530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=4248981655880476530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/4248981655880476530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/4248981655880476530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/11/jadwal-kajian-salafi-di-kuwait.html' title='Jadwal Kajian Salafi di Kuwait'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-5827225732812645866</id><published>2007-06-23T05:12:00.001+03:00</published><updated>2007-11-18T23:03:16.306+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Hijamah'/><title type='text'>Al Hijamah...(rangkuman)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 153);font-size:180%;" &gt;الحجامة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata "Hijamah" berasal dari bahasa Arab, Al Hijmu (الحجم)  yang berarti pekerjaan membekam, MENGHISAP ATAU MENYEDOT. Al Hajjam berarti ahli bekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIJAMAH ADALAH PENGOBATAN YANG PALING UTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;    &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;خير ما تداويتم به الحجامة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah hijamah.” (Hadits shahih menurut syarat Asy-Syaihkani. Al Albani menshahihkannya dalam  As-Silsilah Ash-Shohihah,1053. Lihat pula Musnad Imam Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGGAL PELAKSANAAN BEKAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGGAL 17, 19 dan 21 dari BULAN HIJRIYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI PELAKSANAAN BEKAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANG UTAMA/AFDHOL: SENIN, SELASA DAN KAMIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HINDARI: HARI RABU !!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-5827225732812645866?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/5827225732812645866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=5827225732812645866' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/5827225732812645866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/5827225732812645866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/06/al-hijamahrangkuman.html' title='Al Hijamah...(rangkuman)'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-1129488436782931787</id><published>2007-06-21T20:06:00.002+03:00</published><updated>2007-06-21T20:13:10.679+03:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-1129488436782931787?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/1129488436782931787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=1129488436782931787' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1129488436782931787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/1129488436782931787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/06/blog-post.html' title=''/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-4498187868606046443</id><published>2007-06-21T00:16:00.001+03:00</published><updated>2007-11-19T16:09:23.009+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Hijamah'/><title type='text'>Al Hijamah/Bekam</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-4498187868606046443?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/4498187868606046443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=4498187868606046443' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/4498187868606046443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/4498187868606046443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/06/al-hijamahbekam.html' title='Al Hijamah/Bekam'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5733632028534139033.post-4578398189693630382</id><published>2007-06-21T00:00:00.000+03:00</published><updated>2007-06-21T21:39:31.233+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Test...'/><title type='text'>Assalamu'alaikum....السلام عليكم</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.......&lt;br /&gt;Ana baru nyoba blog baru nih....&lt;br /&gt;Pengin berbagi ilmu dan informasi.....&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat!!! Aamiin.&lt;br /&gt;Salam kenal tuk semuanya.......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5733632028534139033-4578398189693630382?l=islamic-therapy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/feeds/4578398189693630382/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5733632028534139033&amp;postID=4578398189693630382' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/4578398189693630382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5733632028534139033/posts/default/4578398189693630382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamic-therapy.blogspot.com/2007/06/assalamualaikum.html' title='Assalamu&apos;alaikum....السلام عليكم'/><author><name>.:Abu Shofiyah:.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10991472561733551429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://4.bp.blogspot.com/_5m4U3YwL9Wc/SLVgr61JqBI/AAAAAAAAAQA/URBPCMbw_B4/S220/MIstiqlal.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
